Tips Membentuk Ikatan Batin Orang Tua dan Anak Sesuai Usianya

Reporter: Tabloid Bintang
Editor: Yunia Pratiwi
Jumat, 17 Mei 2019 17:01 WIB
Tips Membentuk Ikatan Batin Orang Tua dan Anak Sesuai Usianya

CANTIKA.COM, Jakarta -  Hubungan ikatan batin anak dan orang tua yang positif membutuhkan konsistensi yang harus dilakukan bertahun-tahun. Orang tua harus memahami masalah dari sudut pandang anak dan membuka jalur komunikasi dua arah. Ini hal yang penting untuk dilakukan dalam membangun ikatan batin orang tua dan anak.

Baca juga: Dampak Negatif Orang Tua Overparenting pada Anak

Namun seiring perkembangannya terkadang anak mengalami perubahan sikap yang dipengaruhi oleh kematangan usia dan pengaruh lingkungan mereka. Untuk itu, orang tua perlu menyesuaikan diri. Berikut ini cara membangun ikatan batin sesuai dengan usia anak.

#1. Usia Prasekolah: Bersenang-senanglah
Pada usia ini, memanfaatkan rasa kagum anak terhadap Anda pada hal-hal yang terjadi sehari-hari akan sangat membantu dalam menjalin ikatan batin yang positif dengan anak. Anak balita memandang semua hal adalah hal yang baru bagi hidupnya sehingga hal kecil yang Anda lakukan bisa jadi sangat menakjubkan di mata mereka.

Misalnya, anak bisa sangat takjub ketika melihat Anda meniup balon, melempar pakaian kotor ke dalam keranjang, atau sekadar membalikkan telur di penggorengan. “Semua hal adalah baru, jadi dalam hampir semua kegiatan Anda bisa menjadi pemenangnya, ungkap Dr. Forrest Talley, psikolog klinis diInvictus Psychological Services di California, Amerika Serikat.

Rasa kagum pada orang tua bisa menjadi cikal bakal kepercayaan anak terhadap orang tuanya. Karena itu, nikmatilah hal-hal kecil yang bisa membuat anak terpukau, seperti melempar batu ke selokan, bermain balon sabun saat mandi, atau menginjak genangan air. Manfaatkan kekaguman anak pada Anda untuk menanamkan bahwa Anda bisa dipercaya dan diandalkan juga tunjukkan bahwa Anda peduli pada mereka.

Selanjutnya...anak TK

#2. TK Hingga Kelas 3 SD: Bermain dan Membaca Buku Bersama
Begitu anak-anak mulai sekolah, mereka mengembangkan fungsi kognitif yang lebih besar dan lebih banyak kemampuan fisik yang bisa dilakukan. Bangunlah ikatan dengan mereka lewat aktivitas yang memungkinkan mereka menunjukkan penguasaan keterampilan baru, seperti memanggang, bermain sepeda, berlari di taman dan, tentu saja, membaca.

Lauren Mosback, terapis dan konselor psikologi berlisensi anak dan dewasa asal Pennsylvania, Amerika Serikat, menekankan pentingnya membacakan buku untuk anak yang mengandung nilai-nilai kebaikan, persahabatan, kepercayaan diri, keluarga, dan mengidentifikasi serta mengeskpresikan perasaan. “Hal ini akan membantu anak mengembangkan dan memahami hubungan yang sehat dengan orang-orang di sekelilingnya dan menciptakan ikatan batin orang tua dan anak yang sehat pula,” jelas Lauren Mosback.

#4. Kelas 4-5 SD
Pada usia ini, anak-anak mulai mengembangkan rasa kemandirian dan otonomi yang lebih besar. Mereka mulai bereksperimen dengan hobi baru, seperti pelajaran musik atau olahraga, dan orang tua harus mengikuti jejak mereka. Munculkan permainan atau ajak anak Anda ke acara-acara sesuai minat mereka, seperti konser musik atau pertandingan olah raga, atau apapun yang sesuai dengan kegemaran mereka.

Ini juga merupakan waktu yang tepat untuk mulai membiasakan percakapan-percakapan yang sulit untuk mengantisipasi tahun-tahun praremaja dan remaja. "Karena masa SMP dan usia dewasa awal sudah di depan mata, ada baiknya untuk mulai mempersiapkan masa-masa ini melalui obrolan-obrolan mengenai tentang yang sudah menunggu Anda," kata Forrest Talley. Obrolan ini termasuk juga topik-topik seputar remaja seperti soal pertemanan, ketertarikan terhadap lawan jenis, hingga pendidikan seksual dasar.

Selanjutnya anak SMP dan SMA



#5. SMP: Luangkanlah Waktu Khusus Untuk Dihabiskan Bersama
Anak usia SMP — dengan emosi dan perubahan hormon yang besar — akan terasa lebih sulit dalam ikatan orangtua-anak. Pada fase ini, cara yang terbaik adalah membiarkan anak Anda memilih pengaturan dan aktivitas yang disukai, sambil tetap mengusahakan agar Anda bisa meluangkan waktu berkualitas bersama anak.

Forrest Talley menyarankan orang tua untuk meluangkan setidaknya 2 atau 3 jam waktu 'khusus' dengan anak mereka setiap akhir pekan. Mintalah anak untuk memilih dan memutuskan (dengan alasan yang bisa diterima) bagaimana kalian akan menghabiskan waktu bersama. “Meluangkan waktu untuk dihabiskan bersama tidak bisa ditawar, namun anak boleh menentukan bagaimana atau kegiatan apa yang dilakukan untuk menghabiskan waktu berkualitas itu,” lanjut Forrest Talley.

Perlu diingat pula, anak usia SMP sering melakukan hal atau mengucapkan sesuatu yang tidak terduga. Jangan terpancing atau menganggap serius hal-hal absurd yang dikatakan anak. “Anak-anak sering mengeluarkan emosi mereka pada orang-orang yang mereka rasa paling dekat dengannya. Orang tua dapat membantu anak melalui tahap ini dengan tetap tenang dan memberikan saran secara rasional, dan tetaplah ingat bahwa fase ini juga merupakan tahap yang sulit bagi anak," kata LauremMosback.

#6. SMA: Maksimalkan Waktu Bersama Yang Semakin Minim
Di SMA, anak mulai berlatih menjadi orang dewasa dan kemungkinan lebih tertarik untuk menjalin ikatan dengan teman daripada dengan ibu dan ayah. Pada fase ini biasanya orang tua akan merasa waktu bersama dengan anak semakin jauh berkurang.

Itulah mengapa penting untuk memanfaatkan waktu bersama yang singkat, seperti saat berada di mobil bersama. Forrest Talley juga merekomendasikan Anda untuk melakukan ritual menyenangkan misalnya membuat sarapan di akhir pekan. Upayakan agar sedikit waktu yang bisa Anda habiskan bersama anak menjadi momen menyenangkan bukannya dengan menasihati atau menceramahi mereka ketika tidak ada masalah serius yang muncul.

Seringnya, orang tua menuduh dan menceramahi anak untuk hal-hal yang sebenarnya  tidak perlu membuat anak kehilangan rasa nyaman dan enggan bercerita lagi tentang masalahnya kepada Anda. “Jika ada tekanan atau hukuman ketika anak berbicara jujur saat berkomunikasi dengan kita, maka anak akan beralih (berbicara) ke orang lain,” Lauren Mosback mengingatkan.

AURA