5 Penyebab Caregiver Sering Marah saat Merawat Lansia, Burnout Salah Satunya

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Ilustrasi wanita tersenyum pada orang tua atau lansia di panti jompo. shutterstock.com

Ilustrasi wanita tersenyum pada orang tua atau lansia di panti jompo. shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Perawat lansia atau yang disebut dengan caregiver, memiliki peran penting dalam menunjang kesehatan pasien lansia. Dalam merawat masyarakat senior ini, diperlukan kesabaran yang lebih. Jika dalam merawat lansia, caregiver kerap emosi dengan bicara menggunakan nada tinggi, maka kemungkinan caregiver sedang mengalami burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik, emosional yang menyebabkan perubahan perilaku. “Perubahan sikap caregiver ini kita pikirkan lebih ke arah caregiver burnout,” kata Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Anastasia Ratnawati Biromo dalam acara virtual Brain Awareness Week Indonesia (BAW Indonesia) 2021 pada Selasa, 21 September 2021.

Ana menjelaskan gejala dari caregiver burnout adalah perubahan sikap seperti lebih mudah putus asa, merasa lelah, tidak memiliki semangat dalam melakukan hal yang disukai, dan mudah lupa. “Biasanya caregiver burnout itu gejalanya, caregiver jadi lebih gampang frustasi, merasa lelah, kemudian gak semangat lagi melakukan hal-hal yang disenangi, kemudian menjadi pelupa atau bingung, padahal pasien itu akan sangat bergantung pada caregiver,” kata Ana.

Ana juga menceritakan salah satu kasus yang pernah terjadi, dimana perubahan sikap pada caregiver dapat menyebabkan pasien merasa tertekan dan kurang nyaman berada di rumah. “Ini adalah laporan dari Tn. H (pasien), dikatakan bahwa caregiver ini berubah, dulu sikapnya sangat lembut dan baik, kemudian sekarang selalu nadanya tinggi,” kata Ana.

Terdapat beberapa penyebab yang mungkin tidak disadari oleh caregiver, namun hal tersebut dapat berdampak pada perubahan sikap hingga membuat pasien lansia merasa kurang nyaman berada di rumah. Adapun penyebab yang dimaksud, sebagai berikut :

1. Kebingungan peran
Penyebab utama dari caregiver burnout adalah perubahan peran. Ana mencontohkan bila caregiver merupakan seorang istri dan pasien adalah suaminya, maka burnout terjadi karena istri mengubah peran dari seorang istri menjadi caregiver.

Perubahan tersebut membuat istri yang sebelumnya bersikap lembut dan melayani suami dengan sangat baik, jadi lebih mudah marah karena sedang berperan sebagai perawat atau caregiver. “Saat ini, Ibu N (Istri) menjadi caregiver makanya dia galak, dia marah kalo pak H (suami) berbaring terus menerus,” kata Ana.

2. Mengutamakan orang yang diasuh
Menjadi caregiver memang menguras tenaga lebih dan menyebabkan caregiver hanya berfokus pada pasien hingga melupakan dirinya sendiri. “Jadi waktu untuk dirinya sendiri kurang,” kata Ana.

3. Harapan tidak realistik
Ana menjelaskan bahwa harapan juga menjadi salah satu penyebab dari caregiver burnout. Ia menceritakan bahwa tak jarang dirinya menemukan caregiver yang memiliki harapan tidak realistis, seperti memiliki harapan pasien kembali bersikap normal layaknya pasien saat berusia muda. “Ketika itu tidak tercapai dalam waktu dekat, maka caregivernya jadi putus asa,” kata Ana

4. Kurang dukungan keluarga
Dukungan keluarga juga dibutuhkan dalam merawat pasien lanjut usia. Dukungan serta bantuan keluarga, dapat membuat caregiver merasa tidak terlalu terbebani.

5. Memiliki komitmen lain
Seorang caregiver biasanya memiliki tugas atau komitmen lain seperti mengurus anak, cucu atau orang tua. Dengan komitmen dan tanggung jawab yang dijalankan secara bersamaan, dapat menyebabkan caregiver burnout. “Pasti caregiver itu punya tanggung jawab untuk hal lain,” kata Ana.

Dalam mengatasi hal tersebut, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan seperti dengan belajar untuk beradaptasi sebagai caregiver, buat harapan yang lebih realistis terkait kondisi orang yang diasuh, boleh merasakan emosi negatif namun tidak boleh dilampiaskan pada pasien.

Selain itu, caregiver juga harus memahami adanya keterbatasan yang ia miliki serta mengatur waktu untuk istirahat dengan baik. Cara lain untuk mengatasi caregiver burnout adalah dengan berkomunikasi bersama kelompok atau komunitas caregiver, atau konsultasi bersama dokter.

Baca: Waspada, Insomnia pada Lansia Berisiko Bunuh Diri

FAHIRA NOVANRA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."