Diet Sangat Rendah Kalori Bisa Turunkan Berat Badan, Tapi Berbahaya

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Kinanti Munggareni

google-image
Saat menurunkan berat badan, perhatikan pula kebutuhan gizi dan nutrisi tubuh. (Foto: Canva)

Saat menurunkan berat badan, perhatikan pula kebutuhan gizi dan nutrisi tubuh. (Foto: Canva)

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Salah satu cara menurunkan berat badan adalah dengan diet rendah kalori. Diet ini dilakukan dengan mengurangi jumlah kalori yang masuk dalam tubuh. Namun, banyak orang melakukan dengan cara ekstrim dan mengurangi besar-besaran asupan kalori setiap hari. 

Beberapa orang misalnya, memilih melakukan diet sangat rendah kalori atau dikenal dengan very low calory diet (VLCD). Diet ini memaksa tubuh hanya mengonsumsi kurang dari 800 kalori saja per hari atau bahkan lebih kecil, yakni hingga 300-400 kalori.

Penurunan berat badan mungkin bisa terjadi dengan sangat drastis. Masalahnya, ini bisa memberikan efek buruk pada kesehatan tubuh. 

Dikutip dari Antara, dokter spesialis gizi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik (PDGKI), Samuel Oetoro mengatakan "Diet ekstrem kurang dari 800 kalori sehari tidak boleh dilakukan sembarangan tanpa pengawasan ahli diet yang kompeten." 

"Efeknya bisa berbahaya. Apalagi diet dengan hanya mengkonsumsi 300-400 kalori per hari yang harus membutuhkan makanan khusus atau makanan pengganti yang disebut meal replacement karena kebutuhan nutrisi pelaku diet ini tidak akan terpenuhi dari makanan biasa," kata Samuel. 

Bahaya terbesar yang terkait dengan diet sangat rendah kalori berhubungan dengan kekurangan vitamin dan mineral. Kekurangan vitamin dan mineral dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan. 

Menurut Mayo Clinic, jika pola makan Anda kekurangan mineral zinc, yaitu pada biji labu dan daging sapi, Anda bisa mengalami kerontokan rambut.

Asupan zat besi yang rendah dapat menyebabkan anemia, sedangkan asupan kalsium dan vitamin D yang rendah secara kronis dapat menyebabkan osteoporosis di kemudian hari. Jika Anda tidak mendapatkan cukup vitamin niasin, yang ditemukan dalam tuna dan kurma, Anda bisa berisiko terkena serangan jantung karena penyumbatan arteri.

Diet VLCD juga dapat membahayakan tubuh dengan kehilangan otot. Dikutip dari Healthline, Sharon Palmer, R.D., ahli diet dan penulis "Plant-Powered for Life," menunjukkan, "Setelah tubuh Anda mengonsumsi cadangan lemak, tubuh mulai membakar otot yang sehat."

Pada awalnya, kehilangan otot mungkin tampak seperti Anda kehilangan lebih banyak berat badan, tetapi perlu diingat bahwa tidak semua berat badan itu buruk.

Untuk menjaga kesehatan tubuh, Anda harus mampu membangun otot. Pola makan yang sehat membakar lemak, bukan otot. Diet sangat rendah kalori juga bisa mengganggu metabolisme tubuh Anda dan membuatnya jadi melambat.

Pakar gizi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik (PDGKI), Feni Nugraha, dikutip dari Antara, juga menyebutkan bahwa diet ekstrim akan membuat kita mengalami sembelit. 

"Ketika kita diet ekstrim, akan terjadi gangguan pergerakan fungsi usus. Apalagi sekarang yang dijalankan itu banyak yang kurang serat. Serat penting untuk BAB. Serat akan menarik air ke usus besar, membuat feses lebih lunak dan berbentuk, sehingga BAB lancar. Saat serat kurang karena diet ekstrim, memang cendrung sembelit," kata Feni Nugraha dalam sebuah bincang daring, dikutip Senin.

Alih-alih hanya berfokus pada jumlah kalori yang masuk dalam tubuh, Anda yang tengah menjalani program diet harus tetap memperhatikan nutrisi. Pertimbangkan juga mengkombinasikan diet dengan olahraga. Ini tentu lebih penting, ketimbang berhasil menurunkan berat badan tapi malah jatuh sakit. 

Baca juga: Gagal Turunkan Berat Badan? Hindari Gorengan dan Makanan Cepat Saji

ANTARA | HEALTHLINE

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."