Cara Atasi Masalah Keluarga Menurut Ahli, Jangan Bahas di Medsos

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi ibu berbicara dengan anak. Freepik.com

Ilustrasi ibu berbicara dengan anak. Freepik.com

IKLAN

CANTIKA.COM, JAKARTA - Masalah keluarga antara Krisdayanti, Aurel Hermansyah dan Azriel Hermansyah yang diunggah ke media sosial, khususnya Instagram menjadi sorotan awal pekan ini. Ibu dan anak itu membagikan beberapa unggahan curahan hati masing-masing. Bermula dari komentar Aurel di foto Lebaran keluarga Krisdayanti yang diunggah di Instagram pada 25 Mei 2020. Perempuan 21 tahun ini mengungkapkan pesannya yang tak dibalas.

Kemudian Krisdayanti atau KD mengklarifikasi bahwa ia merespons pesan putrinya dengan menunjukkan foto tangkapan gambar percakapan WhatsApp mereka berdua. 

"Bismillahirrahmanirrahim...Dalam setiap kesempatan sesibuk dan selimit apapun waktu saya, selalu saya upayakan perhatian khusus untuk semua anak anak baik yang yang bersama saya maupun aurel & azriel," tulis Krisdayanti di Instagram pada Ahad, 7 Juni 2020.

Adik Yuni Shara ini mengaku ponsel tak selalu bersama dirinya selama 24 jam. Maka dari itu, bervariasi kecepatannya dalam membalas pesan atau teks. 

"Jadi pada kesempatan ini saya ingin mengklarifikasi berita yang beredar bahwa saya tidak membalas bila ada pesan dari anak saya itu sama sekali tidak benar. Sebaliknya saya merasa bahagia mendapatkan pesan dari mereka dan begitu membaca saya langsung membalas," jelas ibu empat anak itu.

Kemudian unggahan KD itu direspons oleh Azriel yang meluapkan emosi hingga membeberkan perlakuan kurang menyenangkan dari Raul Lemos yang disebutnya dengan Om dan Krisdayanti kepada ia dan kakaknya. 

Menanggapi masalah keluarga di atas, Psikolog Anisa Cahya Ningrum menyarankan jika pengguna media sosial atau medsos perlu menyadari bahwa ada batasan pembahasan yang perlu disepakati bersama.

Terlebih lagi, jika sedang mengalami konflik dalam keluarga. Setiap permasalahan keluarga diatasi secara berjenjang dan tanpa dibawa ke ranah publik, ungkapnya. Dimulai dari berbicara secara internal dengan keluarga inti.

"Jika mengalami kebuntuan, maka areanya bisa diperluas, dengan meminta bantuan keluarga dekat, yang sekiranya bisa membantu. Jika masih belum terselesaikan, maka sudah saatnya meminta bantuan seorang konselor, agar ditangani secara profesional," saran Anisa saat dihubungi Cantika pada Senin, 7 Juni 2020.

Sebelum sampai di titik klimaks, lebih baik kenali gejala-gejala awal konflik keluarga, dan segera lakukan langkah khusus untuk mengatasinya. Misalnya, anak sudah mulai protes ketika merasa pesannya tidak ditanggapi, orang tua menanggapi hal itu sebagai tanda waspada.

"Kita tidak bisa “meminta permakluman” pada anak, bahwa kita tidak 24 jam memegang HP (handphone). Yang perlu kita lakukan adalah segera menghentikan aktivitas, dan segera menemui anak (baik langsung maupun virtual) untuk menunjukkan respons positif atas keluhannya tersebut," lanjutnya.

Awali dengan permintaan maaf, lalu segera tanyakan apa yang diinginkan anak. Usahakan untuk menyelesaikan masalah sesegera mungkin. Jangan menunda-nunda melakukan klarifikasi, karena penundaan akan dinilai anak sebagai ketidakpedulian dan minimnya perhatian dari orang tua.n

Anjuran dari psikolog di atas menjadi pengingat untuk kita semua agar mawas diri. Sayangi dan lindungi keluarga

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."