Waspada, Nonton Pornografi dapat Menyebabkan Demensia

Ilustrasi melihat pornografi. Shutterstock

kesehatan

Waspada, Nonton Pornografi dapat Menyebabkan Demensia

Senin, 20 September 2021 20:32 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, JakartaDemensia atau pikun merupakan sindrom berkurangnya ingatan atau memori seseorang. Penyakit itu, lebih sering dialami lansia. Namun beberapa kebiasaan buruk saat muda bisa mempercepat terjadinya demensia.

Terdapat berbagai faktor penyebab demensia, salah satunya ialah sering menonton pornografi. Menurut Kepala Departemen Neurologi FKIK Unika Atma Jaya, Dokter Spesialis Saraf Octavianus Darmawan, pornografi memiliki efek adiksi atau ketergantungan sehingga dapat menyebabkan kecanduan secara berkepanjangan dan berakibat pada kerusakan saraf otak.

“Adiksi, ketagihan atau kecanduan dikerjakan secara berkepanjangan itu pasti akan mengakibatkan kerusakan otak,” kata Octa dalam acara virtual Brain Awareness Week Indonesia (BAW Indonesia) 2021 pada Senin, 20 Oktober 2021.

“Ingat bahwa hal-hal seperti pornografi, konsumsi obat-obat terlarang, ini memiliki efek adiksi, hubungannya dengan neurotransmitter glutamin, jika terjadi berkepanjangan akan mengakibatkan kerusakan otak,” kata Octa.

Tidak hanya pornografi, ada berbagai faktor risiko lain yang menyebabkan munculnya demensia seperti merokok dan depresi. “Penghentian rokok dapat berdampak positif pada demensianya, artinya bahwa orang yang menghentikan rokoknya, dalam penelitian ini selama 4 tahun dikatakan efek sampingnya akan berkurang,” kata Octa

“Depresi sendiri dikatakan bisa meningkatkan risiko meningkatkan demensia hingga 2 kali lipat,” kata Octa

“Depresi sendiri meningkatkan hormon stres sehingga mengakibatkan peradangan yang berujung pada kerusakan otak,” lanjutnya.

Kemajuan teknologi juga dapat meningkatkan faktor risiko dari demensia. Dengan penggunaan gadget, dapat mengurangi komunikasi atau kontak sosial dan aktivitas fisik. Padahal dalam mencegah munculnya demensia, dapat dilakukan dengan berkomunikasi dengan orang lain dan aktif melakukan aktivitas fisik. “Kesepian sendiri akan mengakibatkan lansia minim stimulus, serta kurang dukungan terutama dukungan emosional, sehingga mengakibatkan angka kejadian demensia akan meningkat,” kata Octa

“Aktivitas fisik yang kurang mengakibatkan risiko mengalami demensia sebesar 1,4 kali lipat, dibandingkan dengan yang aktivitasnya baik,” kata Octa.

Cara lain dalam mencegah demensia dapat dilakukan dengan stimulasi otak yakni dengan mempelajari berbagai hal baru seperti bermusik, berkebun, jalan-jalan, mediasi. Kegiatan tersebut dipercaya mampu meningkatkan daya tahan otak.

“Perbanyak stimulasi mental kita, berusaha mempelajari hal-hal yang sifatnya baru, tapi nggak sesederhana seperti hanya sekedar isi TTS (teka-teki silang) atau melihat foto-foto lama juga, kita harus pelajari hal-hal yang sifatnya baru,” kata kata Octa.

Baca: Vaksin Covid-19 Aman untuk Lansia dengan DemensiaFAHIRA NOVANRA