Institut Ibu Profesional Ubah Perspektif Tentang Ibu Rumah Tangga

Septi Peni Wulandani, Founder Institut Ibu Profesional, di Acara Inspirasi Perempuan untuk Indonesia, di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Rabu 24 April 2019. Tempo/Astari P Sarosa

keluarga

Institut Ibu Profesional Ubah Perspektif Tentang Ibu Rumah Tangga

Kamis, 25 April 2019 11:30 WIB
Reporter : Astari Pinasthika Sarosa Editor : Yunia Pratiwi

CANTIKA.COM, Jakarta - Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang memiliki kontribusi besar pada masyarakat sekitar. Seringkali, masyarakat memperdebatkan mengenai perbedaan antara ibu rumah tangga dan ibu yang bekerja. Padahal, ibu rumah tangga juga menjadi ibu yang bekerja. Hal ini yang mendorong, komunitas Institut Ibu Profesional mengubah perspektif mengenai ibu rumah tangga.

Baca juga: Mana Lebih Bahagia dan Sehat, Ibu Bekerja atau Ibu Rumah Tangga

Pendiri komunitas Institut Ibu Profesional, Septi Peni Wulandani mendirikan komunitas untuk para ibu rumah tangga ini karena pengalaman pribadinya. Septi mengakui sempat  memiliki mimpi untuk menjadi wanita yang bekerja profesional. Namun pada saat kekasihnya melamar Septi untuk menjadi istrinya,  ia diminta untuk mendidik anak-anaknya.

Meskipun ragu untuk menjadi ibu rumah tangga, Septi akhirnya menerima permintaan tersebut. Ia sendiri mengubah perspektifnya mengenai pekerjaan ibu rumah tangga. Sama seperti ibu yang bekerja di ranah publik, Septi bangun bagi dan menggunakan pakaian profesional dari jam 7 pagi.

“Saya harus menjadi profesional. Saya berjuang selama 8 tahun dari dalam rumah, sampai akhirnya membuat komunitas ini. Saya bangga menjadi ibu rumah tangga,” tutur Septi Peni Wulandani sebagai Founder Institut Ibu Profesional, di Acara Inspirasi Perempuan untuk Indonesia, di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Rabu 24 April 2019.

Komunitas ini dimulai dari kegiatan offline, bersama para tetangganya. Awalnya dari 1 ibu menjadi 100 ibu dalam satu tahun. Kemudian pada 2012, Septi membuat website dan membuat kuliah online. “Bikin webinar, kegiatan offline kita streaming, gitu terus. Itu kami kerjakan dari Salatiga di Jawa Tengah, yang internetnya pas-pasan,” lanjut Septi.

Dari kegiatan ini, dia melihat kala banyak ibu rumah tangga yang memiliki permasalahan dan perasaan yang sama. Septi mulai membuat webinar setiap hari Rabu dari jam 8-9 malam. Sampai akhirnya ada 3.000 ibu yang ikut webinar secara rutin di tahun 2015.

Namun pada tahun 2015, Septi merasa kalau webinar hanya bisa didengarkan oleh ibu-ibu dari kota yang memiliki akses internet yang kuat. Dia ingin ibu-ibu yang tidak memiliki akses internet yang baik juga bisa mendapatkan pelajaran yang diberikan webinar ini. “Karena itu kita bikin kelas melalui WhatsApp dari tahun 2015. Kami membuat tulisannya, lalu disebarkan. Saya latih 100 orang pertama yang ikut komunitas ini untuk menjadi fasilitator. Satu fasilitator memegang satu grup WhatsApp dengan 100 ibu,” tutur Septi.

Materi diberikan setiap hari Senin, dan didiskusikan sampai hari Jumat. Pada hari Sabtu, ibu-ibu bisa menjelaskan mengenai praktik yang mereka lakukan dan penjelasan tersebut dikumpulkan di Google Drive. Di akhir tahun, Institut Ibu Profesional membuat penjelasan dan praktik yang dilakukan menjadi buku. Septi mengtaakan kepada ibu dalam komunitas ini untuk tidak pernah menyampaikan teori. Semua cerita dalam buku tersebut adalah pengalaman yang nyata.

Perlahan-lahan ibu di Institut Ibu Profesional juga bisa masuk ke ranah publik. Namun, hal tersebut sebaiknya dilakukan saat fondasi domestik sudah kuat. Septi percaya kalau anak-anak akan lebih sehat secara mental bila ibunya aktif mendidiknya sampai mereka berusia 12 tahun.

Menurut Septi Peni Wulandani, setelah 12 tahun, anak-anak sudah ingin bermain dengan teman dan sudah mulai mandiri. Ibu rumah tangga juga sudah bisa mengambil pekerjaan profesional di ranah publik, bila mereka ingin melakukan hal tersebut. Itulah perspektif yang ingin diajarkan oleh Institut Ibu Profesional. Sekarang komunitas ini sudah memiliki sekitar 21.000 anggota di 57 kota di Indonesia dan 10 negara sekitarnya.