Cerita Rengkuh Banyu Mahandaru Mendesain Plepah, Pembungkus Makanan yang Ramah Lingkungan

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rezki Alvionitasari

google-image
Rengkuh Banyu Mahandaru dengan produk Plepah, kemasan makanan ramah lingkungan. Foto: Instagram/@rengkuh.banyu.

Rengkuh Banyu Mahandaru dengan produk Plepah, kemasan makanan ramah lingkungan. Foto: Instagram/@rengkuh.banyu.

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Rengkuh Banyu Mahandaru patut bangga, Plepah menjadi properti yang digunakan dalam pembukaan atau Kick Off 15th SATU Indonesia Awards 2024. Para dewan juri untuk pemilihan tokoh inspiratif, memasang puzzle yang terdiri dari kemasan ramah lingkungan itu.

Berfoto bersama saat seremoni Kick Off 15th SATU Indonesia Awards 2024

Plepah adalah produk karya anak muda yang resah dengan maraknya pembungkus makanan berbahan plastik. Plepah dirintis oleh tiga orang yang memiliki latar belakang desain produk, yaitu Rengkuh, Almira Zulfikar, dan Fadhlan Makarim. Ketiganya tergabung dalam Footloose Initiative, organisasi multidisiplin yang berfokus pada inovasi sosial dan lingkungan.

Plepah ini mengantarkan Rengkuh dan kawannya menjadi pemenang 14th SATU Indonesia Awards 2023 untuk kategori Kelompok. Rengkuh mengatakan Plepah berbahan limbah pertanian dari pelepah pinang. Dia pun menceritakan awal mula dia dan rekannya memproduksi Plepah.

Ketika itu tahun 2018, Badan Ekonomi Kreatif menugaskan mereka memberikan edukasi, pendampingan dan eksplorasi bersama pelaku kreatif di daerah-daerah Indonesia. "Tahun 2018, kita semakin dimudahkan dengan delivery (jasa antar) makanan," tutur Rengkuh yang hadir pada Kick Off SATU Indonesia Awards 2024 di Menara Astra, Jakarta Pusat, awal Maret silam.

Dia bukan penggerak lingkungan, namun dia khawatir penggunaan styrofoam yang marak semakin merusak lingkungan. Bahkan saat dirinya menyelam di pantai, bukan ikan yang ditemuinya, melainkan sampah dari styrofoam.

Maka pada saat Rengkuh mengunjungi berbagai negara, dia mendapat inspirasi menciptakan pembungkus makanan dengan bahan ramah lingkungan. Terutamanya pada saat ke India, Rengkuh melihat warga di sana sudah menjalankan konsep sustainable (keberlanjutan) dalam kesehariannya. "Saat pulang, kami mencari global resources, dan berjalan-jalan ke Jambi," ucap Rengkuh.

Di situlah dia menemukan bahan yang bisa dipakai untuk idenya, yaitu pelepah pohon pinang. Menurut Rengkuh, sebenarnya pembungkus makanan dari bahan natural di Indonesia sangat wajar dan biasa bagi masyarakat. Ada daun pisang, daun jati, dan lainnya. "Itu kami reply kembali. Orang bisa membawa itu (pembungkus alami) ke mana-mana, bahkan secara teknik, pembungkus makanan dari bahan natural sebetulnya banyak kebaikannya."

Rengkuh dan kawannya tidak berjalan sendiri, mereka merangkul masyarakat dan bercita-cita meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat. Tujuan lainnya tentu menyediakan solusi alternatif bagi penggunaan plastik sekali pakai.

Manfaat program Plepah saat ini sudah dirasakan oleh 30-40 kepala keluarga di Desa Mendis, Musi Banyuasin dan Tanjabung Timur, Jambi. Mereka mendapatkan peningkatan pemasukan hingga Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta per bulan. Manfaat juga dirasakan oleh banyak pihak seperti petani, pemasok bahan baku, tim produksi, dan tim operasional.

Tantangan dan Pencapaian

Bincang Inspiratif dalam sesi AstraTalk: 15th SATU Indonesia Awards 2024

Produk Plepah mendapatkan tanggapan positif dari pasar dan permintaan yang cukup banyak. Rengkuh mengatakan saat ini sudah ada tiga titik produksi Plepah, yakni di Sumatera Selatan, Jambi, dan Cibinong, Bogor. Mereka memproduksi sekitar 120 ribu biji kemasan per bulan.

Tapi saat ini Plepah menghadapi kendala keterbatasan kapasitas produksi dan kelancaran suplai energi di area produksi. Plepah membutuhkan investasi baik dari lembaga atau perorangan untuk mempercepat peningkatan kapasitas produksi.

Selain itu, Plepah berusaha menurunkan harga agar mendekati harga jual alat pembungkus lain seperti karton ataupun styrofoam. Dengan demikian masyarakat dapat beralih kepada kemasan alami produksi Plepah tanpa perlu mengeluarkan biaya lebih.

Hasil dari inovasi dengan mesin dan material, saat ini Plepah telah berhasil memproduksi kontainer makanan yang dapat terurai dalam 60 hari. Produk Plepah anti air dan dapat dipanaskan hingga 200 derajat Celcius selama empat menit dalam Microwave dan 45 menit di dalam oven. Sebelum diedarkan, produk ini juga sudah disterilkan dengan UV.

Saat ini, kata Rengkuh, Plepah berfokus dalam pembuatan pelet dari sampah atau limbah sisa hasil tanaman yang tidak dimanfaatkan lagi. Pelet-pelet tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar di PLTU untuk mengurangi ketergantungan terhadap batubara.

Pilihan Editor: Kisah Diana Cristiana Da Costa Ati, Guru Penggerak Daerah Terpencil di Papua Selatan

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."