Pendidikan Seks Masih Tabu, Ini Peran Sekolah dan Orang Tua

Webinar berjudul Cara Tepat Memberikan Pendidikan Seks pada Anak dan Remaja oleh GREDU/GREDU

kesehatan

Pendidikan Seks Masih Tabu, Ini Peran Sekolah dan Orang Tua

Rabu, 9 Februari 2022 16:45 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, Jakarta - Memberikan pendidikan seks kepada anak masih sering dianggap tabu di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan GREDU pada Januari lalu, sebanyak 6,2 persen dari 1.800 responden beranggapan pendidikan seks tidak perlu diberikan kepada anak karena tidak pantas dan akan mengerti sendiri saat dewasa.

Menariknya, menurut teori yang dipelajari oleh psikolog anak, remaja dan keluarga Jovita Maria Ferliana, sadar atau tidak sadar, pendidikan seks sudah dimulai ketika bayi baru lahir. Tindakan pemberian sentuhan, dibelai, dipeluk, dan kasih sayang pada bayi merupakan pendidikan seks yang pertama kali dalam kehidupan manusia. Hal tersebut dirasakan bayi melalui kulitnya sehingga bayi merasakan sensasi adanya rabaan yang menyenangkan dari tubuhnya sehingga akan terbentuk penghayatan jika ia dicintai oleh orang tua.

“Pendidikan seks adalah pengetahuan tentang fungsi organ tubuh, perubahan biologis, psikologis, dan psikososial sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan manusia. Jadi pendidikan seks tidak melulu tentang hubungan seksual tapi meliputi banyak hal”, kata Jovita dalam keterangan pers yang diterima Cantika.com pada 9 Februari 2022.

Pendidikan seks juga termasuk bagaimana manusia memahami tentang bentuk tubuh, cara menjaga kebersihan, hingga mengetahui bagaimana peran-perannya dalam lingkungan.

Peran sekolah dalam pendidikan seks untuk anak didikMenanggapi banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan, Dedy, selaku kepala HRD di Sekolah Tanah Tingal, menyatakan bahwa setiap sekolah perlu memiliki kebijakan untuk meningkatkan keamanan sekolah.

Tindakan preventif di lingkungan sekolah yang dilakukan diantaranya adalah pemasangan CCTV di lokasi-lokasi yang memungkinkan adanya tindak bullying hingga kekerasan seksual, meningkatkan intensitas patroli yang dilakukan oleh security sekolah, dan pemasangan spanduk larangan anti bullying dan kekerasan. Selain itu, sekolah juga menanamkan nilai-nilai religius kepada anak didik sehingga tidak melakukan hal-hal negatif yang menentang agama dan pengadaan pendidikan seks yang sesuai dengan rentang usia anak didik.

Mengetahui hal ini, Jovita menyetujui bahwa sekolah juga perlu bekerja sama dengan orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada anak. Jovita juga mengingatkan bahwa meskipun sekolah telah memberikan pendidikan seks, namun tanggung jawab terbesar tetap berada di orang tua dan tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Dedy menambahkan, bahwa tidak hanya untuk peserta didik namun pendidikan seks juga perlu diberikan kepada seluruh warga sekolah, hingga orang tua. Biasanya dilakukan saat pengambilan rapor, sekolah mengadakan sosialisasi atau webinar untuk orang tua, sehingga ada sinergitas antara pengajaran guru di sekolah dan orang tua yang ada di rumah. Dengan begitu, akan tercipta kerjasama yang baik dari seluruh warga sekolah sehingga lingkungan yang aman di mana seluruh warga sekolah dapat menjadi pencegah kekerasan seksual dan pelindung bagi anak.

Jovita juga menambahkan bahwa pendidikan seks bisa dibuat sesantai mungkin, tidak perlu menyediakan waktu khusus untuk anak. orang tua dapat menyelipkan pendidikan seks dalam kegiatan sehari-hari atau saat mengobrol santai. Dengan ini, akan tercipta suasana yang nyaman bagi sang anak untuk bisa bercerita secara terbuka kepada orang tuanya.

Hal ini disetujui oleh Dedy. Sebagai seorang ayah dengan tiga anak perempuan, Dedy selalu menyempatkan waktu khusus untuk mendengar cerita dari anak-anaknya mengenai kegiatan sehari-hari, tak lupa menyisipkan berbagai pesan kepada anaknya. Waktu khusus ini diakui dapat mendekatkan orang tua dan anak sehingga jika ada masalah apapun, anak dapat terbuka dengan orang tuanya.

Jika orang tua merasa kesulitan menjawab pertanyaan anak, jangan ragu untuk mencari sumber lain yang terpercaya untuk memberikan informasi yang akurat, seperti ke anggota keluarga lainnya, buku, hingga dokter spesialis dan psikolog anak. Sehingga bukan menjadi beban, pendidikan seks malah bisa dijadikan salah satu kegiatan menyenangkan untuk belajar bersama yang dapat mempererat hubungan keluarga.

Baca: Tips untuk Orang Tua Ajarkan Pendidikan Seks bagi Anak Sesuai Umur