Wanita Bisa Bicara 21 Ribu Kata Perhari untuk Atasi Burnout, Kalau Pria...

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Burnout adalah reaksi terhadap stres kerja yang berkepanjangan dan menyebabkan kelelahan, sinisme, kurang fokus, dan menurunnya kemampuan profesional. (Pexels/energepic.com)

Burnout adalah reaksi terhadap stres kerja yang berkepanjangan dan menyebabkan kelelahan, sinisme, kurang fokus, dan menurunnya kemampuan profesional. (Pexels/energepic.com)

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Di masa pandemi, kata burnout menjadi cukup populer. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana seseorang merasa terjebak pada rutinitasnya, kemudian mengalami kelelahan secara mental dan merasa butuh bantuan, hingga sampai pada titik tidak ingin lagi melakukan pekerjaan tersebut atau ingin melarikan diri dari situasi yang dihadapinya.

Burnout sendiri berbeda dengan stres. Stres yang negatif atau dikenal dengan distress akan membuat produktivitas seseorang menurun. Ketika tidak ada intervensi dan penyelesaiannya, maka distress akan berkembang menjadi burnout. Jadi, bisa disimpulkan burnout merupakan tumpukan stres yang negatif dan tidak ditangani dengan tepat.

Pada Instagram live bersama Teman Parenting awal Januari 2022, Psikolog Tatik Imadatus Sa’adati menjelaskan ada beberapa pencetus orang tua bisa mengalami burnout, yaitu orang tua belum siap memiliki anak, tidak ada support system yang baik, dan kurang memiliki pengetahuan tentang dunia parenting.

"Satu hal yang perlu diingat, pria dan wanita berbeda. Jadi, cara penanganan stres dan burnout-nya pun tidak sama. Secara umum, ketika ada masalah, wanita cenderung mengungkapkannya agar tidak stres," kata Ima, sapaan Imadatus.

Karena memang dianugerahi kemampuan berbicara atau berbahasa 16.000-21.000 kata per hari, ujar Ima, para ibu silakan ngobrol dengan siapa saja, orang yang dipercaya tentunya, kalau sedang ada masalah.

Sedangkan bagi pria, secara umum kalau sedang ada masalah justru butuh waktu untuk sendiri. Jadi, selama suami tidak bercerita, sebaiknya istri tidak perlu menarik-nariknya untuk curhat karena malah akan memunculkan emosi.

Saat sedang merenung, tandanya suami sedang berpikir. Cukup ambilkan teh hangat atau kopi, lalu temani. Bila suami sudah lebih tenang, mintalah izin untuk memberikan pendapat, seperti, “Aku boleh kasih pendapat enggak, Mas?” Bila ia membuka diri dan bertanya, barulah berikan pendapat.

Buat Baterai Emosi Kembali Stabil
Ima mengungkapkan, normal apabila sekali waktu ibu merasa lelah, sedih, butuh orang lain, atau ingin me time. Terbukalah dengan support system ketika membutuhkan bantuan atau atur strategi dengan pasangan, apa yang bisa dilakukan agar tidak sampai burnout.

Saat merasa burnout, yang pertama bisa dilakukan adalah rehat sejenak dari situasi tersebut. Mintalah orang lain untuk menggantikan peran ibu untuk sementara waktu dalam mengasuh si Kecil.

Kemudian, lakukan sesuatu yang pasti akan membuat ibu senang dan membuat baterai emosi kembali stabil. Misalnya, ibu merasa lebih baik ketika dipeluk oleh suami, maka jangan ragu untuk minta dipeluk suami. Terkadang, perlu juga untuk tidak melakukan apa pun alias bermalas-malasan saja. Seberapa lamanya, tergantung kebutuhan sang ibu.

Baca: Parental Burnout, Masalah yang Suka Tidak Disadari Orang Tua

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."