Keloid, Gejala dan Penyebab Bekas Luka Timbul pada Kulit

Keloid adalah jaringan parut yang timbul dari respons penyembuhan terlalu agresif terhadap luka. (Wikimedia Common/Michael Rodger)

kesehatan

Keloid, Gejala dan Penyebab Bekas Luka Timbul pada Kulit

Kamis, 18 Maret 2021 11:39 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Kinanti Munggareni

CANTIKA.COM, JakartaKetika kulit terluka, jaringan fibrosa yang disebut jaringan parut terbentuk di atas luka untuk memperbaiki dan melindungi luka. Dalam beberapa kasus, jaringan parut ekstra tumbuh, membentuk pertumbuhan halus dan keras yang disebut keloid.

Bekas luka keloid, yang biasanya tebal dan tidak teratur, jarang hilang dengan sendirinya. Dikutip dari Every Day Health, bekas luka ini bisa jadi sulit untuk diobati. Itulah sebabnya para ahli kulit menekankan pentingnya mencegah keloid terbentuk sejak awal. 

Apa itu keloid?

Keloid, atau bekas luka keloid, adalah sejenis bekas luka yang tumbuh terlalu banyak, atau respons penyembuhan yang terlalu agresif terhadap luka.

Keloid berasal dari pertumbuhan berlebih jaringan parut. Bekas luka keloid cenderung lebih besar dari luka asli itu sendiri. Keloid muncul secara bertahap dan membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk berkembang sepenuhnya.

Diperlukan waktu selama 3 hingga 12 bulan atau bahkan lebih lama sebelum Anda melihat keloid mulai berkembang; sebagian besar cenderung muncul dalam waktu satu tahun setelah kerusakan kulit asli.

Bekas luka menonjol ini mungkin juga tumbuh dengan cepat. Terkadang keloid bahkan menyebar dengan cepat, dan mungkin, misalnya, ukurannya menjadi tiga kali lipat hanya dalam beberapa bulan.

Tanda dan gejala keloid

Jika bekas luka Anda terasa gatal, lembut, atau nyeri. Gejala ini biasanya berhenti setelah keloid berkembang. Keloid juga bisa muncul jika bekas luka Anda mudah teriritasi, misalnya karena gesekan pada pakaian.

Bekas luka yang secara bertahap berubah menjadi lebih gelap juga merupakan gejala timbulnya kelodi. Biasanya ini dimulai dengan bekas luka berwarna merah muda, merah, atau daging yang menjadi gelap dari waktu ke waktu dan akhirnya terlihat lebih gelap daripada kulit di sekitar bekas luka.

Meskipun bekas luka keloid mungkin terasa gatal, biasanya ini tidak berbahaya bagi kesehatan Anda. Anda mungkin mengalami ketidaknyamanan, kemungkinan iritasi dari pakaian atau bentuk gesekan lainnya.

Keloid bisa terbentuk di daerah tubuh manapun

Jaringan parut keloid dapat terbentuk di area tubuh yang luas, tetapi hal ini jarang terjadi. Ketika itu terjadi, jaringan parut yang mengeras dan kencang dapat membatasi pergerakan.

Keloid seringkali lebih merupakan masalah kosmetik daripada kesehatan. Anda mungkin merasa tidak nyaman jika keloid berukuran sangat besar atau berada di lokasi yang sangat terlihat, seperti di daun telinga atau wajah. Keloid juga bisa muncul di leher, bahu, dada, dan punggung.

Bergantung pada ukuran bekas luka dan lokasinya di tubuh, keloid dapat memengaruhi seberapa baik Anda dapat menggerakkan area tubuh tersebut. Sementara bagi sebagian orang, gejala fisik seperti nyeri atau gatal dapat berdampak pada kesehatan psikologis.

Keloid di wajah misalnya, mungkin dianggap tidak sedap dipandang oleh orang lain dan itu dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional mereka. 

Penyebab keloid bisa bermacam-macam

Sebagian besar jenis cedera kulit dapat menyebabkan jaringan parut keloid. Berikut beberapa di antaranya:

  • bekas jerawat
  • luka bakar
  • bekas luka cacar air
  • tindik kuping
  • goresan
  • situs sayatan bedah
  • situs vaksinasi

Diperkirakan 10 persen orang mengalami jaringan parut keloid. Pria dan wanita sama-sama cenderung memiliki bekas luka keloid. Orang dengan warna kulit lebih gelap lebih rentan terhadap keloid.

Baca juga: 5 Jenis Bekas Jerawat dan Cara untuk Mencegahnya 

Namun, ada pula faktor risiko lain yang terkait dengan pembentukan keloid. Salah satunya adalah faktor genetik, usia, dan ras. Mereka yang merupakan keturunan Asia atau Latin punya risiko lebih. 

Faktor lainnya adalah kehamilan, berusia kurang dari 30 tahun, dan memiliki komponen genetik. Maksudnya, Anda lebih mungkin mengalami keloid jika salah satu atau kedua orang tua Anda memilikinya.

Menurut sebuah penelitian, gen yang dikenal sebagai gen AHNAK mungkin berperan dalam menentukan siapa yang mengembangkan keloid dan siapa yang tidak. Peneliti menemukan bahwa orang yang memiliki gen AHNAK lebih mungkin mengembangkan bekas luka keloid daripada mereka yang tidak.

Jika Anda mengetahui faktor risiko keloid, Anda mungkin ingin menghindari tindik badan, operasi yang tidak perlu, dan membuat tato.

Baca juga: Ketahui Dimpleplasty, Operasi Membentuk Lesung Pipi