Orang Tua Tolak Sekolah Tatap Muka, Siswa dan Guru Sebaliknya

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rini Kustiani

google-image
Ilustrasi bersekolah dengan menggunakan masker. (Xinhua/Kaikeo Saiyasane)

Ilustrasi bersekolah dengan menggunakan masker. (Xinhua/Kaikeo Saiyasane)

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Orang tua menolak anak-anak mereka kembali ke sekolah di tengah pandemi Covid-19. Kecemasan orang tua akan pembelajaran tatap muka terekam dalam survei angket yang dilakukan komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Retno Listyarti.

Dari survei itu diketahui sebanyak 66 persen responden orang atau 129.397 orang tua tidak setuju akan kebijakan membuka kembali sekolah. Namun sikap itu berkebalikan dengan para siswa dan guru. Dalam survei yang sama, sebanyak 63,7 persen responden siswa (9.643 orang) setuju jika sekolah dibuka pada Juli 2020.

Senada dengan siswa, sebanyak 54 persen responden guru (18.111 orang) setuju menjalani pembelajaran tatap muka di sekolah. "Orang tua tidak setuju karena khawatir, sementara anak dan guru setuju (sekolah dibuka) karena merasakan pembelajaran jarak jauh yang sebelumnya bermasalah," kata Retno Listyarti.

Retno Listyarti mengatakan orang tua yang tidak setuju sekolah dibuka beralasan mereka tidak mempercayai kemampuan sekolah membangun infrastruktur new normal, seperti tempat mencuci tangan dan sanitasi yang baik. "Kalaupun di sekolah aman. Bagaimana dengan perjalanan anak dari rumah ke sekolah?" kata Retno Listyarti seraya menyarankan evaluasi rencana pelaksanaan sekolah tatap muka di zona hijau.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperbolehkan sekolah yang berada di zona hijau untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Ada 104 kabupaten/kota yang berada di dalam zona hijau itu. Meski begitu, keputusan final pembukaan sekolah tetap berada di pemerintah daerah masing-masing.

Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, mengatakan sekolah di zona hijau belum 100 persen dikatakan aman. Ia menjelaskan, meski kabupaten atau kota dikatakan sudah berada di zona hijau, mungkin saja per kecamatan ada yang masih berada di zona kuning atau oranye. "Kalau domisili murid masih ada yang oranye, jangan buka sekolah dulu," kata dia.

Menurut Windhu, pemerintah harus memastikan tidak ada kasus di wilayah berstatus zona hijau. Bukan karena kapasitas testing di sana terbatas sehingga tidak ada kasus tercatat. Perlu ada pemetaan lebih mendalam di zona hijau mengenai wilayah di dalamnya. "Di kabupaten secara umum hijau, apakah kecamatan sudah hijau semua? Kalau belum, jangan berani buat kerumunan baru."

Senada dengan Windhu, Ketua Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunus Miko Wahyono mengatakan, pemerintah provinsi serta kabupaten atau kota harus yakin bahwa daerahnya benar-benar sudah hijau dari Covid-19. "Takutnya jumlah spesimen yang diperiksa sedikit. Sebelum anak sekolah masuk, harusnya diperiksa dulu," ujar dia saat dihubungi.

Tri Yunus menyarankan dilakukan survei populasi agar diketahui prevalensi kasus Covid-19 di daerah itu dengan benar. Dengan begitu, diharapkan benar-benar ada kepastian mengenai status zona itu sebelum membuka kembali sekolah.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengatakan orang tua peserta didik memiliki hak memutuskan akan mengirim anaknya kembali ke sekolah atau tetap mengikuti pembelajaran jarak jauh dari rumah. Pihak sekolah tidak berhak melarang orang tua yang ingin anaknya tetap belajar dari rumah demi menghindari tertular Covid-19. 

"Kami harus memegang prinsip kebebasan memilih karena ini menyangkut kesehatan masing-masing," ucap dia dalam program Ini Budi: Reformasi Pendidikan Mas Menteri di Masa Pandemi yang ditayangkan di akun YouTube Tempodotco, Sabtu, 11 Juli 2020.

Nadiem menjelaskan, pihak sekolah yang ingin mengadakan kembali pembelajaran secara tatap muka harus meyakinkan orang tua bahwa penerapan protokol kesehatan di sana mapan. Jika tidak bisa membuktikan, Nadiem berpesan, agar guru dan kepala sekolah tidak menghukum siswa, baik secara kurikulum maupun penilaian, yang tetap memutuskan belajar dari rumah.

DIKO OKTARA | CAESAR AKBAR | AHMAD FAIZ

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."