CANTIKA.COM, Jakarta - Di tengah maraknya kritik publik terhadap penggunaan fasilitas negara, aktris Prilly Latuconsina bersama Omara Estheghlal menghadirkan perspektif segar lewat unggahan di media sosial mereka. Keduanya menyoroti kisah nyata para guru di pelosok Indonesia yang dengan penuh dedikasi mengabdikan diri demi masa depan anak-anak bangsa.
Prilly dan Omara Estheghlal menegaskan bahwa merekalah yang seharusnya mendapatkan aliran pajak rakyat serta fasilitas negara yang berlimpah, bukan para elite yang hidup dalam kenyamanan dan kemewahan.
Salah satu kisah datang dari Andas di Sorong, seorang guru yang setiap hari harus menempuh perjalanan dua jam dengan kapal hanya untuk bisa mengajar. Bahkan, demi mendapatkan jaringan internet untuk proses belajar, ia bersama murid-muridnya harus menyeberang menggunakan kapal.
Di Sumba Barat, ada Orlince Bili yang rela menjual ayam dan barang-barang pribadi demi membeli buku bagi anak-anak didiknya. Foto-foto yang dibagikan menggambarkan kondisi sekolah yang sangat sederhana, bahkan jauh dari kata layak. Namun, baik guru maupun murid tetap bersemangat hadir setiap hari.
Lalu ada kisah Sofianti di Matantimali, yang setiap hari mempertaruhkan nyawa dengan naik gunung dan melewati pedalaman hutan demi bisa mengajar. Tak hanya itu, ia juga selalu menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk murid-muridnya agar mereka bisa belajar dengan perut terisi.
Meski hidup dengan keterbatasan, para guru ini tetap teguh pada panggilannya. Mereka mengajar tanpa keluhan, sementara anak-anak datang ke sekolah dengan senyum lebar dan semangat tinggi untuk menimba ilmu.
“Namun mereka tidak dihargai oleh negara ratusan juta, bahkan kata ‘juta’ pun masih jauh. Kondisi sekolahnya sangat tidak layak. Tapi tanpa mengeluh mereka pergi setiap hari. Inilah pahlawan negara sesungguhnya,” tulis Prilly dan Omara yang berkolaborasi di Instagram.
Di unggahan selanjutnya, Prilly Latuconsina kembali berbagi pengalaman saat terjun langsung ke pelosok Indonesia. Dalam unggahannya, Prilly membagikan kisah ketika ia mengajar di SD Inpres Soe Un, Desa Kuatae, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Foto ini diambil saat aku mengajar di SD Inpres Soe Un Desa Kuatae NTT. Sebelum kerusuhan pecah, sebelum hiruk-pikuk mengguncang,” tulis Prilly.
Bagi Prilly, perjalanan ke daerah terpencil membuka matanya tentang wajah lain dari negeri ini. Di balik keindahan alam Indonesia, ia melihat kenyataan yang pahit: hak-hak masyarakat kecil yang kerap terabaikan dan suara-suara yang jarang terdengar.
Meski demikian, semangat anak-anak di sekolah tersebut justru membuatnya kagum. Ketika Prilly bertanya mengenai cita-cita mereka, para murid dengan lantang menyebutkan mimpi-mimpi besar: menjadi dokter, perawat, pemain bola, hingga astronot. “Sungguh semangat mereka langsung menular ke dalam diri ini,” tulisnya lagi.
Pengalaman itu membuat Prilly merenung tentang kehidupan. Ia merasa malu untuk mengeluh, melihat bagaimana anak-anak di pelosok tetap tersenyum dan bersemangat meski hidup dalam keterbatasan serta ketidakadilan.
“Sejak mata ini melihat sisi yang jarang terlihat, aku jadi malu untuk mengeluh tentang hidup. Di pelosok, ada begitu banyak senyuman yang lahir di atas ketidakadilan. Semoga setiap harapan di balik senyuman itu tak pernah padam hingga mimpi yang terasa mustahil bisa kita wujudkan bersama,” ungkapnya.
Pilihan Editor: Raih ASEAN PR Excellence Awards, Ini Kata Prilly Latuconsina
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.