Cerita Ika Dewi Maharani, Relawan Sopir Ambulans Pasien COVID-19

Ika Dewi Maharani merupakan satu-satunya sukarelawan medis perempuan yang bertugas sebagai sopir ambulans di bawah naungan Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Foto: Tangkap layar dari tayangan YouTube BNPB Indonesia "Relawan Non-Medis & Penginapan Gratis untuk Para Tenaga Medis Cozy Home Care " pada Kamis, 16 April 2020.

profil

Cerita Ika Dewi Maharani, Relawan Sopir Ambulans Pasien COVID-19

Jumat, 17 April 2020 12:25 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Perjuangan mengatasi virus corona baru atau COVID-19 tak hanya milik tenaga medis, tapi juga menjadi tugas kita dengan gotong royong. Sepertinya itu salah satu hal yang menggerakkan hati Ika Dewi Maharani. Ia merupakan satu-satunya sukarelawan medis perempuan yang bertugas sebagai sopir ambulans di bawah naungan Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Kasus COVID-19 di Jakarta yang semakin meningkat, ditambah dengan jumlah petugas ambulans yang kurang memadai, membuat Ika membulatkan tekat menjadi relawan.

"Dengan keahlian yang saya miliki, saya bisa menyetir, saya basic perawat, jadi pas dan sesuai dengan panggilan hati. Dengan kemampuan yang saya punya, saya harus melayani," kata Ika dalam konferensi pers secara daring di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Kamis, 16 April 2020.

Tergabung dalam sebuah asosiasi profesi perawat Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI), Ika yang berasal dari Maluku Utara berkuliah di Surabaya. Saat ini tinggal di mess yang disediakan BNPB dan bertugas di rumah sakit Universitas Indonesia.

Menangani pasien di rumah sakit menjadi hal biasa bagi Ika, namun mengantarkan pasien ke rumah sakit menjadi persoalan lain. Menjadi sopir ambulans merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya.

"Untuk ambulans baru pertama kali di dalam hidup saya, tapi ya gitu, ternyata di ambulans tidak semudah yang kita bayangin," tutur Ika.

Banyak hal yang menguji kesabarannya, seperti sudah membunyikan sirine, tapi kadang orang-orang di sekitar tidak peka untuk memberikan jalan untuk ambulans yang mengangkut pasien.

"Untung ada orang dengan kesadaran memberikan jalan, jadi kita tetap dengan cepat membawa pasien ke tempat yang dirujuk," lanjut ia.

Mengemban tugas untuk mengantarkan pasien dalam pengawasan (PDP) atau pun pasien positif COVID-19 membuat Ika berisiko besar terinfeksi virus corona. Itu sebabnya ia mengatakan "safety" adalah kunci utama. Menggunakan alat perlindungan diri (APD) menjadi hal wajib bagi Ika sebelum berangkat bertugas. Tidak hanya agar dirinya, itu juga agar para pasien tetap aman.

Meski telah mengenakan APD, sebagai manusia biasa, Ika mengaku ada perasaan takut ada dalam dirinya, namun semangat kemanusiaan yang dia rasakan jauh lebih tinggi.

"Rasa takut ada pasti, cuma ini harus kita lihat lagi, ini adalah tugas bagi kita sebagai relawan medis, kita harus menangani pasien dari awal sampai akhir pasien itu kita harus tangani," ujar dia.

Untuk menjaga imunitas tubuh sebagai cara untuk melawan COVID-19, di tengah shift 12 jam yang ia jalani, Ika selalu menyempatkan diri untuk makan teratur dan istirahat yang cukup.

"Shift pagi dari jam 7 sampai jam 7 malam, itu pertama harus makan dulu. Selesai absen, kita makan, ada panggilan untuk kita rujuk, setelah itu selesai, baru kita makan. Yang penting makan harus sehari tiga kali, multivitamin, dan susu," imbuhnya.

Di tengah perjuangannya, Ika menguntai harapan pandemi corona dapat segera berakhir. "Dengan kita mengabdikan diri sebagai relawan kita harap penanggulangannya ini semakin cepat, jadi bencana ini cepat akan berakhir," pungkasnya.

EKA WAHYU PRAMITA