BCL Butuh Dukungan Ini Usai Kehilangan Mendadak Menurut Psikolog

Bunga Citra Lestari (BCL) memberikan penghormatan terakhir kepada suaminya, Ashraf Sinclair saat pemakaman di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat, Selasa, 18 Februari 2020. Aktor asal negeri Jiran itu tutup usia pada Selasa (18/2) pukul 04.51 WIB akibat serangan jantung. ANTARA/M Ibnu Chazar

keluarga

BCL Butuh Dukungan Ini Usai Kehilangan Mendadak Menurut Psikolog

Minggu, 23 Februari 2020 10:30 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Lima hari berlalu wafatnya Ashraf Sinclair, publik masih mengenang sosoknya. Kepergian Ashraf yang mendadak menyisakan luka yang mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkan, terutama sang istri Bunga Citra Lestari atau BCL yang sudah hidup bersama selama 11 tahun, dan putranya Noah Sinclair. Tentu istri keduanya butuh proses untuk penyembuhan rasa kehilangan ini.

Psikolog keluarga Sani Budiantini Hermawan mengatakan, kondisi mental BCL bisa jadi lebih berat mengingat kepergian Ashraf yang mendadak, tanpa tanda-tanda. Itu yang membuat ia lebih sulit melupakan kesedihan. 

“Secara teori, peristiwa mengejutkan, mendadak, tidak disangka-sangka, akan jauh lebih berat dibandingkan dengan yang sudah diprediksi. Jauh lebih shock. Bahkan bisa PTSD (post-traumatic stress disorder) setelah beberapa bulan,” kata Sani kepada Tempo.co, Jumat, 21 Februari 2020.

PTSD merupakan gangguan psikologis yang disebabkan oleh kejadian mengejutkan. Gangguan ini meliputi aspek pikiran, emosi, perilaku, hingga mood. Sebenarnya kondisi ini tidak hanya terjadi pada seseorang yang ditinggal pasangan seperti BCL, tapi kejadian-kejadian tak disangka seperti guncangan di pesawat atau sesak yang tiba-tiba muncul setelah makan pun bisa memicu PTSD.  

Bunga Citra Lestari (BCL) memberikan penghormatan terakhir kepada suaminya, Ashraf Sinclair saat pemakaman di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat, Selasa, 18 Februari 2020. Kabar meninggalnya Ashraf Sinclair mengejutkan banyak pihak, pasalnya semasa hidup ia dikenal sebagai sosok yang menerapkan gaya hidup sehat. ANTARA/M Ibnu Chazar

Itu sebabnya, BCL membutuhkan support system yang kuat dari keluarga maupun teman-temannya untuk menghindari gangguan psikologis yang lebih berat.

Namun, kata Sani, reaksi setiap orang akan berbeda pada peristiwa yang sama, dipengaruhi oleh kekuatan individu. Orang yang cukup kuat secara spiritual atau memahami kehidupan biasanya lebih kuat dan lebih mudah.

“Jadi tergantung kekuatan masing-masing. Tiga bulan pertama pasti lebih berat. Tiga bulan kedua bisa bangkit. Tapi kalau getting worse, perlu bantuan profesional untuk diberi obat-obatan dan psikolog untuk melalui masa grieving,” ucap psikolog dari lembaga Psikologi Daya Insani ini.

Kondisi mental Noah mungkin sama beratnya. Sani mengatakan, anak berusia sembilan tahun seperti Noah umumnya sudah memahami kematian. Namun, anak-anak biasanya lebih mudah dialihkan dengan permainan atau kedatangan teman-temannya.

Ditambah lagi, peristiwa kehidupan ayahnya dengan ia tak selama dengan ibunya. “Tapi tetap saja ada rasa sedih, lonely, dan kangen,” tukas Sani.

Cara mengatasinya, kata Sani, anak sebaiknya sering diajak bertemu dengan teman atau sepupunya, buat acara-acara doa bersama dan diberi pemahaman yang tepat tentang kematian agar dia tidak takut.

“Kalau ia menangis biarkan saja, jangan ditahan,” pungkasnya.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah jangan menanyakan peristiwa itu berulang-ulang karena itu akan membuat keluarga yang ditinggalkan semakin sedih. “Jangan ditanya, tunggu sampai ia ngomong sendiri jika ia mau,” jelas Sani.

MILA NOVITA