Ariel Tatum Sempat Alami Gangguan Mental BPD, Cek Gejalanya

Ariel Tatum, penyanyi, aktris, dan influencer kesehatan mental. Instagram.com/@arieltatum

kesehatan

Ariel Tatum Sempat Alami Gangguan Mental BPD, Cek Gejalanya

Selasa, 19 November 2019 06:00 WIB
Reporter : Sehatq.com Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Tantangan berkarier di dunia hiburan, salah satunya adalah mengalami masalah kesehatan mental. Penyanyi dan aktris Ariel Tatum sempat rehat dari industri hiburan Indonesia untuk beberapa waktu, demi mengobati kesehatan mental yang dialaminya.

Wanita kelahiran 8 November 1996 itu mengakui mengidap borderline personality disorder (BPD) alias gangguan kepribadian ambang akut. Ariel Tatum juga sempat mencoba bunuh diri.

Jika sampai membuat seseorang ingin bunuh diri, berarti BPD memang merupakan gangguan kesehatan mental serius yang harus segera ditangani.

Secara medis, BPD merupakan kondisi gangguan mental yang berdampak pada cara pandang seseorang terhadap dirinya sendiri dan orang lain, sehingga bisa mempengaruhi kehidupannya sehari-hari.

Akibat menderita BPD, seseorang bisa mengalami masalah terkait citra dirinya, merasa sulit mengontrol diri dan perilaku, dan memiliki hubungan tak stabil dengan orang lain.

Biasanya, BPD akan diderita saat seseorang mulai menginjak usia dewasa. Kondisi ini bisa semakin parah jika tidak ditangani langsung oleh ahlinya.

Berikut beberapa gejala ini dapat dirasakan para penderita BPD

1. Rasa takut diabaikan, bahkan bisa melakukan hal-hal ekstrem untuk menghindari adanya penolakan atau pengabaian dari orang lain.

2. Memiliki hubungan yang tak stabil dengan seseorang, misalnya memuji orang itu, lalu tak lama kemudian menilai orang tersebut tidak peduli atau jahat.

3. Sering mengubah citra atau identitas diri.

4. Menganggap diri sendiri buruk atau bahkan tidak mengakui keberadaan diri sendiri.

5. Mengalami periode paranoia yang berhubungan dengan stres dan “menjauh” dari kenyataan. Hal ini bisa berlangsung selama beberapa menit bahkan jam.

6. Berperilaku impulsif dan melakukan tindakan berisiko, seperti bermain judi, mengemudi dengan sembrono, membuang-buang waktu, makan berlebihan, penyalahgunaan obat terlarang, melakukan hubungan seks yang berisiko, hingga menyudahi hubungan dengan kekasih tanpa alasan jelas.

7. Menunjukkan perilaku dan memikirkan tentang bunuh diri. Biasanya, hal ini dilakukan untuk menunjukkan rasa takut akan adanya penolakan atau pengabaian.

8. Perubahan suasana hati yang cepat dan drastis, bisa berlangsung selama beberapa jam hingga hari.

9. Merasakan perasaan kosong yang berkelanjutan.

10. Sering marah, termasuk kehilangan kesabaran, bersikap sarkastik, sampai berkelahi secara fisik.

11. Kerap berprasangka buruk terhadap orang lain.

12. Jika sudah stres, bisa merasa bahwa diri sedang berada di luar tubuh

Jika ada orang terdekat menunjukkan gejala-gejala di atas, ada baiknya Anda tidak langsung menghakimi. Lebih baik, sarankan kepadanya untuk ke dokter dan melakukan konsultasi.

Sama seperti kebanyakan penyakit kesehatan mental, penyebab BPD masih belum sepenuhnya dimengerti. Namun, para ahli penyakit kesehatan mental percaya, BPD disebabkan oleh faktor biologis bawaan atau internal, hingga faktor lingkungan, seperti pengalaman traumatis dari masa kecil.

Ada banyak hal kompleks yang terjadi di dalam otak penderita BPD. Para peneliti juga sedang mencari “rahasia” pada otak penderitanya.

Pada dasarnya, jika Anda menderita BPD, otak berada dalam kondisi siaga tinggi. Hal-hal di sekeliling Anda terlihat lebih menakutkan dan membuat Anda lebih stres dibandingkan dengan orang lain.

Di saat BPD sedang menyerang, Anda akan terpicu untuk bertahan hidup secara “primitif” dan tidak menangani situasi dengan baik.

Jangan pernah menyerah. Sebab kondisi ini bisa diobati. Beberapa pengobatan, seperti meditasi, bisa berdampak sangat baik.

Selain itu, psikoterapi dan pemberian obat-obatan, seperti anti depresi, anti psikotik, dan obat untuk menstabilkan suasana hati juga dapat mengurangi gejala dari BPD. Dengan kesabaran dan komitmen, Anda bisa mengubah cara berpikir, merasakan dan bertindak ke arah yang lebih baik.