Benjolan di Miss V Bisa Jadi Jerawat Vulva, Simak 7 Faktanya

Reporter: Cantika.com
Editor: Yunia Pratiwi
Senin, 11 Februari 2019 20:00 WIB
Benjolan di Miss V Bisa Jadi Jerawat Vulva, Simak 7 Faktanya

CANTIKA.COM, Jakarta - Saat menemukan benjolan di sekitar daerah miss v, hal yang pertama terlintas di pikiran adalah memiliki infeksi menular seksual. Jangan langsung mengambil kesimpulan, kadang-kadang itu mungkin hanya kasus jerawat vulva.

Baca juga: Mengenal Istilah Turun Berok pada Miss V dari Sisi Medis

Dokter kulit bersertifikat di Amerika Serikat, Tsippora Shainhouse, MD, FAAD, mengatakan, secara umum jerawat berkembang karena kombinasi dari empat faktor. “Produksi sebum berlebih atau minyak, yang biasanya berkaitan dengan hormon, hiperkeratinisasi folikuler, yang merupakan dari keratin di folikel / pori-pori, bakteri pada kulit, dan respon peradangan pada kulit untuk semua hal di atas,” ujarnya kepada Bustle.

Jerawat vulva, yang juga kadang-kadang disebut jerawat vagina, adalah hal yang wajar. Faktanya, Dr. Shainhouse mengatakan bahwa sangat umum untuk mengembangkan setidaknya satu atau dua lesi yang pernah ada dalam hidup Anda. "Saya bisa melihat tiga pasien dalam sehari mengalaminya," katanya.

Sama seperti jenis jerawat lainnya, jerawat vulva muncul seperti benjolan merah pada kulit yang terasa gatal, tidak nyaman hingga tidak terasa sakit. Bedanya, jerawat vulva biasanya muncul sebagai folliculitis (folikel rambut yang meradang), abses diskrit, atau kondisi kulit yang lebih serius dan langka yang disebut hidradenitis suppurativa, atau  benjolan yang bertahan lama di bawah kulit. Meski tidak perlu dikhawatirkan, ada beberapa hal yang harus diketahui semua wanita tentang jerawat vulva itu.

#1. Menyebabkan radang
Peradangan diketahui mempengaruhi tubuh dalam beberapa cara berbeda. Meskipun ada banyak penyebab jerawat vulva, radang folikel rambut adalah yang utama. "Kadang-kadang, sel-sel kulit dan keratin menumpuk di folikel, yang menyebabkan tersumbatnya pembukaan," kata Dr. Shainhouse. Ketika ini terjadi, dapat menyebabkan komedo di daerah vulva.

#2. Pilihan pakaian dapat meningkatkan risiko jerawat vulva
Ada jenis kain yang lebih ramah dengan vagina. Misalnya saat menggunakan bahan pakaian dalam nilon dan berkeringat dapat menyebabkan iritasi dan peradangan. “Setelah olahraga dan tetap memakai pakaian saat berkeringat dapat menyebabkan benjolan merah muda, dan ketika dikombinasikan dengan bakteri kulit atau ragi, ini dapat menyebabkan jerawat berwarna merah muda atau nanah di sekitar rambut," katanya. Kamu dapat menggantinya dengan pakaian dalam berbahan katut, dan pastikan mengganti pakaian atau legging setelah berolahraga.

#3. Sabun antibakteri dapat jadi pilihan
Vagina dapat membersihkan dengan sendirinya dan rentan iritasi jika menggunakan sabun atau cairan yang harum. Namun untuk membantu mengatasi jerawat, Dr. Shainhouse mengatakan kamu dapat mempertimbangkan menggunakan sabun anti bakteri atau benzoil peroksida. Tapi pastikan untuk tetap menggunakannya pada vulva dan area luar, tidak di dalam vagina itu sendiri.

#4. Jerawat vulva juga bisa menjadi abses
Menurut Dr. Shainhouse abses area yang bengkak di dalam jaringan tubuh yang berisi nanah yang berkembang di dasar folikel. Biasanya terasa sakit dan benar-benar tidak boleh melakukan apa pun untuk memerasnya kecuali kulit yang terlalu melar cukup tipis hingga pecah. Seperti folikulitis, ini dapat disebabkan karena gesekan pakaian dalam atau bantalan, atau menarik rambut dari perawatan. Ia bahkan bisa terjadi sebagai infeksi bakteri sekunder.

#5. Tidak dapat dicegah
Jika jerawat vulva menunjukkan dirinya sebagai abses, mereka biasanya hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari. Sayangnya, Dr. Shainhouse mengatakan kamu tidak dapat benar-benar mencegahnya. Kabar baiknya adalah, ada cara untuk meredakannya. Misalnya, dengan kompres hangat untuk kenyamanan. Tetapi jika terlalu sakit untuk duduk, berjalan, atau bahkan memakai pakaian dalam, mungkin perlu menemui dokter kulit. "Mereka dapat membedahnya, jika sudah siap atau disuntik dengan steroid ringan untuk mengurangi peradangan," katanya. "Kadang-kadang Anda mungkin memerlukan antibiotik oral selama beberapa hari."

#6. Jika bukan Folliculitis Atau Abses, kemungkinannya adalah
Hidradenitis suppurativa adalah kondisi kulit inflamasi yang kemungkinan besar memiliki komponen genetik atau autoimun, kata Dr. Shainhouse. Gejalanya dapat berkisar dari ringan hingga parah, dan sering muncul sebagai kista yang menyakitkan, berulang dan persisten, atau lesi jerawat yang dipenuhi nanah. Selain daerah vagina, ini juga bisa terjadi di ketiak, bokong, dan payudara.

Tidak seperti bentuk-bentuk jerawat vulva lainnya, ini adalah salah satu yang harus dikelola oleh dokter karena itu hilang dan kembali begitu sering sepanjang hidup. "Ini dapat diatasi dengan pembersihi anti-bakteri yang dijual bebas, resep antibiotik topikal dan oral, serta suntik imunomodulator biologis," katanya. "Kadang-kadang saluran sinus dan kista bisa dibasmi (dipotong terbuka) dan dikeruk habis atau benar-benar dipotong oleh seorang ahli bedah."

#7. Jerawat vulva bukan infeksi menular seksual
jerawat vulva sering disebut herpes atau kutil kelamin. Meskipun mungkin terlihat dan mirip, tapi tidak. Menurut Dr. Shainhouse, orang sering bingung antara jerawat vulva dengan herpes, kutil kelamin, dan moluskum kontagiosum, yang semuanya terlihat seperti lecet dan benjolan non-folikel. Pastikan Anda tidak menyentuh atau memencet jerwat. Jika jerawat vulva menjadi luka terbuka dan kamu melakukan aktivitas seksual, dapat meningkatkan risiko Anda terkena infeksi menular seksual jika tidak berhati-hati.