Pentingnya Menu 4 Bintang untuk Anak saat MPASI

Reporter: Tabloid Bintang
Editor: Yunia Pratiwi
Sabtu, 9 Februari 2019 18:00 WIB
Pentingnya Menu 4 Bintang untuk Anak saat MPASI

CANTIKA.COM, Jakarta - Ketika bayi mulai mendapat makanan pendamping ASI atau MPASI, ibu mulai memperhatikan asupan yang diberikan. Menu MPASI sering dikenal dengan istilah menu 4 bintang yang terdiri dari empat unsur yakni karbohidrat, protein hewani, nabati, dan lemak.

Baca juga: 6 Mitos Menyusui dan MPASI, Simak Penjelasan Ahli

Keempat unsur ini harus ada untuk memenuhi kebutuhan zat besi dan nutrisi lain. Tujuannya, menghindarkan si buah hati dari berat badan rendah, gizi buruk, hingga stunting alias gagal tumbuh.

Spesialis anak, konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, Conny Tanjung mengatakan masih ada yang membuat kreasi menu 4 bintang yang ternyata tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan anak. “Pernah, ada ibu datang ke saya dan mengklaim bikin menu 4 bintang. Setelah saya cek isinya cuma 1 porsi karbohidrat dan 3 jenis sayur? Siapa yang mengajari itu? Padahal saya tahu ia mampu membeli telur, daging, dan ikan, lo. Nasi dan sayuran saja enggak cukup,” ujar dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk ini. 

Conny mengingatkan, tujuan menyusun menu 4 bintang yakni menambal nilai gizi ASI yang menurun seiring waktu. Pada 6 bulan pertama menyusui, ASI kaya karbohidrat, protein khususnya hewani, vitamin, dan mineral. Setelah itu, nilai gizinya tak sebanyak dulu.  Menu 4 bintang mestinya mengandung karbohidrat, protein hewani maupun nabati, bahan pangan yang mengandung susu, kacang-kacangan, buah, sayur, serta lemak.

Ini harus dicamkan para ibu mengingat, asupan gizi memiliki 4 peran penting buat si kecil. “Pertama, untuk stok energi melakukan aktivitas sehari-hari. Kedua, untuk tumbuh kembang. Ketiga, mendukung metabolisme tubuh. Terakhir, terapi. Artinya, mempercepat proses penyembuhan saat sakit. Harus diakui, masalah utama yang dihadapi masyarakat Indonesia terkait gizi adalah stunting, yakni keadaan di mana panjang badan anak di bawah minus 2 dari standar deviasi tumbuh kembang yang ditetapkan WHO,” ujarnya. 

Stunting dimulai dengan perlambatan pertumbuhan yang jika dibiarkan, menjelma menjadi kurang gizi. Kurang gizi jika dibiarkan, menjadi stunting. Indonesia menduduki peringkat ke-5 dalam daftar negara dengan kasus stunting terbanyak sejagat. 

Stunting memiliki efek jangka pendek dan panjang. Efek jangka pendeknya, menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan frekuensi sakit dan angka kematian yang dipicu penyakit akut seperti diare serta radang paru-paru. Selain itu, mengganggu proses tumbuh kembang. “Dampak jangka panjangnya, penurunan tingkat kecerdasan, gangguan kesehatan reproduksi saat dewasa, hingga rentan terserang penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi,” tandas Conny.

AURA