Alasan Pencegahan Stunting Lebih Baik Sebelum Usia 2 Tahun

Ilustrasi stunting diturunkan dari orang tua? (pixabay.com)

kesehatan

Alasan Pencegahan Stunting Lebih Baik Sebelum Usia 2 Tahun

Jumat, 25 Januari 2019 14:00 WIB
Reporter : Silvy Riana Putri Editor : Yunia Pratiwi

CANTIKA.COM, Jakarta - Sebagai salah satu program prioritas nasional pemerintah, stunting bisa dicegah sebelum anak berusia 2 tahun. Bila melewati usia 2 tahun, hanya dapat memperbaiki tinggi dan berat badan. Sementara fungsi kognitif atau kecerdasannya tidak akan mampu menyamai IQ anak seusianya yang tidak stunting.

Baca juga: Jangan Samakan Stunting dan Berperawakan Pendek, Ini Kata Dokter

Dokter spesialis nutrisi dan penyakit metabolik pada anak, Damayanti, Rusli Sjarif, mengatakan untuk menangangi kasus stunting di bawa 2 tahun, dapat dilakukan melalui perbaikan asupan, latihan, pola tidur dan terapi. "Lain cerita, bila mendapatkan pasien stunting di atas 2 tahun. Bukan pendeknya yang kami takutkan, melainkan fungsi kognitifnya. Kalau sudah lebih dari 2 tahun, susah diperbaiki atau irrevisible,” jelas Damayanti dalam acara FFI MilkVersation Hari Gizi Nasional 2019, di Jakarta Pusat, Rabu 23 Januari 2019.

Mengingat pertanda awal stunting adalah penurunan berat badan, dr Damayanti menekankan pemantauan pertumbuhan bayi sebulan sekali, sekalipun sudah ASI eksklusif. Manfaatkan program di posyandu sebaik-baiknya. Cek secara keseluruhan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala. “Orang tua pun harus aktif mengingatkan bila kader-kader di posyandu lalai dalam standar penimbangan bayi tanpa busana. Ini salah satu pintu untuk menemukan stunting,” jelas dr Damayanti.

Bila dari grafik terjadi penurunan berat badan, bayi harus dirujuk ke dokter spesialis anak. “Jika bayi berusia 4 bulan tidak ada kenaikan bobot sesuai usia, dari asupan ASI yang ada ditambah dengan ASI donor atau susu formula bayi. Bagi bayi yang sudah berusia di atas 4 bulan, kita cek terlebih dahulu apakah sudah bisa menerima makanan pendamping ASI. Salah satu cirinya kepala tegak, tidak selalu menjulurkan lidah, dan mau makan,” kata dr Damayanti.

Komposisi asupan yang diwajibkan sebelum berusia 2 tahun adalah protein 5,2 persen, karbohidrat 39,4 persen, dan lemak 55,4 persen untuk memenuhi kebutuhan perkembangan otak. Diungkapkan oleh dr Damayanti bahwa 90 persen pertumbuhan otak berlangsung dari usia 0 hingga 2 tahun.

Dia pun mementingkan kandungan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan otak. Pilihlah protein berkualitas, seperti ASI, telur, produk susu, ayam, ikan, daging, dan lainnya. Untuk produk susu, dia menyarankan susu sapi cair UHT, bukan susu kental manis dilihat dari kadar gulanya yang tinggi. Disarankan minum satu kali dalam sehari.

Selain pencegahan dari sisi asupan, pemantauan pertumbuhan, dan pemahaman orang tua, dr Damayanti menyatakan penanganan stunting di Indonesia harus benar-benar melibatkan peran pemerintah. Ditinjau dari besarnya jumlah prevalensi yang bisa menyebabkan penurunan kualitas generasi penerus pada 2030, bukan lagi bonus demografi.