Mona Ratuliu Punya Cara Mudah Mengajarkan Anak-anak Toleransi

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Yunia Pratiwi

google-image
Mona Ratuliu bersama suami dan ketiga anaknya. Instagram.com/@monaratuliu

Mona Ratuliu bersama suami dan ketiga anaknya. Instagram.com/@monaratuliu

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Mona Ratuliu memiliki latar belakang keluarga yang beragam. Hal ini membuatnya sadar bahwa toleransi sangat penting diajarkan kepada anak-anak. Terlebih sebagai ibu, dia kerap khawatir dengan cara anak-anaknya bergaul dengan teman-teman yang datang dari budaya yang berbeda.

Baca juga: Kiat Mona Ratuliu Ajarkan Putrinya Bijak Gunakan Media Sosial

Mona Ratuliu tentu ingin ketiga anaknya Davina Syafa Felisa, Barata Rahadian Nezar, dan Syanala Kania Salsabila bisa bertoleransi dengan orang yang memiliki pendapat dan budaya yang berbeda. “Keluarga aku sebenarnya multicultural. Ayahku dari Manado, Ibuku Sunda. Ayahku besarnya di Medan, ibuku di Makassar. Ayahku orangnya tegas dan blak-blakan, ibuku itu lemah lembut, selalu memikirkan enaknya bagaimana cara menyampaikan sesuatu,” ujar Mona Ratuliu, beberapa waktu lalu. 

Mona Ratuliu dan Indra Brasco. Instagram.com/@monaratuliu

Wanita berusia 36 tahun ini mengajarkan toleransi ke anak-anak dengan cara paling mudah, yaitu memberi contoh yang baik. Menurut dia, jika ingin anak-anak bertoleransi, ia juga harus bisa bertoleransi. Tidak hanya dengan orang lain, ia juga harus bisa menunjukkan apresiasi ke anak-anak yang memiliki pendapat yang berbeda dengannya dan menghargai pendapat anak-anaknya.

Mona Ratuliu mengatakan bukan hanya anak-anak saja yang harus bertoleransi, tetapi masyarakat besar di Indonesia. “Mengetahui bagaimana cara ngomong ke satu sama lain supaya Indonesia dengan banyak perbedaan ini bisa lebih mesra. Kita ingin generasi selanjutnya bisa hidup berdampingan lebih baik lagi,” lanjut Mona.

ASTARI PINASTHIKA SAROSA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."