Sering Tidak Disadari, Kenali Ciri Hipertensi dan Pengelolaannya

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Ilustrasi hipertensi (Pixabay.com)

Ilustrasi hipertensi (Pixabay.com)

IKLAN

CANTIKA.COM, JakartaHipertensi alias masalah tekanan darah tinggi sering kali tidak disadari pengidapnya. Hipertensi adalah kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri tubuh meningkat secara persisten. Sementara itu, tekanan darah merupakan kekuatan yang diberikan oleh darah saat mengalir melalui arteri.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam RS Pondok Indah – Puri Indah Wirawan Hambali, hipertensi sering disebut sebagai the silent killer. Maklum penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang jelas pada penderitanya.

Tetapi penyakit ini berisiko menyebabkan masalah serius pada pembuluh darah dan organ penting tubuh, seperti jantung, otak, mata, ginjal, dan organ tubuh lainnya jika tidak ditangani dalam jangka panjang.

Berdasarkan panduan American College of Cardiology atau American Heart Association tahun 2017, hipertensi dapat didiagnosis apabila tekanan darah menetap tinggi lebih dari satu kali pengukuran, yaitu jika menetap lebih dari 130/80 mmHg.

Pengukuran tekanan darah harus mengikuti kaidah yakni tidak sambil berbicara, kandung kemih kosong, menggunakan ukuran manset yang tepat, telapak tangan tidak mengepal, lengan sejajar dengan jantung.

Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan baik dalam posisi duduk, maupun berbaring, selama lengan yang diukur berada dalam posisi sejajar dengan jantung, tungkai atau kaki tidak menyilang, tubuh dan kaki dalam topangan yang cukup.

Prevalensi hipertensi di dunia dan Indonesia

Hipertensi adalah masalah kesehatan global yang umum dijumpai. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019 sebanyak lebih dari 1,13 miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi. Prevalensi ini cenderung meningkat seiring dengan pertambahan usia dan gaya hidup yang tidak sehat.

Di Indonesia, hipertensi juga menjadi masalah serius. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan pada 2018, terdapat sekitar 34,1 persen penduduk dewasa Indonesia menderita hipertensi.

Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga populasi Indonesia berpotensi terkena risiko komplikasi serius akibat hipertensi jika tidak diatasi dengan baik. "Permasalahan juga muncul bahwa dari sebagian besar masyarakat yang terkena hipertensi tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini," tulis Wirawan.

Sayangnya, sebagian besar pengidap hipertensi tidak menjalani pengobatan, serta dari sebagian yang menjalani pengobatan tidak mencapai target tekanan darah yang diharapkan.

Faktor risiko hipertensi

Wirawan berpendapat risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Selain itu, ada pula faktor genetik. Adanya anggota keluarga dengan riwayat hipertensi dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit yang sama.

Selanjutnya, gaya hidup. Konsumsi garam berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan merupakan faktor-faktor gaya hidup yang berkontribusi pada timbulnya penyakit ini.

Diet tidak sehat juga berkontribusi pada kejadian hipertensi. Kebiasaan diet dengan kandungan tinggi lemak jenuh, kolesterol, dan gula dapat berperan dalam perkembangan hipertensi.

Selain itu, kondisi tekanan psikologis kronis dapat turut memengaruhi tekanan darah, serta kondisi medis lain seperti gangguan hormon, gangguan tidur misalnya sleep apnea, penyakit pankreas, dan lain sebagainya juga dapat meningkatkan risiko hipertensi.

Pencegahan dan pengelolaan hipertensi

Menurut Wirawan, pencegahan dan pengelolaan hipertensi sangat penting untuk menghindari komplikasi yang lebih serius seperti serangan jantung, stroke, atau kerusakan organ lainnya.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengelola hipertensi antara lain perubahan gaya hidup. Menerapkan pola makan sehat, mengurangi konsumsi garam, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, dan mengurangi konsumsi alkohol.

Langkah lainnya yakni terapi pengobatan. Dokter mungkin akan meresepkan obat untuk menurunkan tekanan darah jika perubahan gaya hidup tidak cukup efektif membantu. Ada baiknya obat rutin yang sudah diresepkan dokter diminum secara teratur untuk membantu kerja organ tubuh dalam menurunkan tekanan darah.

"Obat rutin yang sudah diresepkan oleh dokter tidak akan membuat ginjal rusak, karena dosisnya sudah disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien," catat Wirawan.

Sebaliknya, resep obat rutin yang tidak dikonsumsi dengan baik, justru dapat memperberat kerja organ ginjal.

Dia juga menganjurkan pasien melakukan pemeriksaan tekanan darah secara teratur, bahkan jika dia merasa sehat. Hal ini penting untuk memantau kemajuan dan memastikan bahwa pengobatan berjalan dengan baik.

Wirawan menyarankan orang-orang tak ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam jika memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi atau faktor risiko lain yang meningkatkan peluang berkembangnya kondisi ini.

Selanjutnya, dia memandang perlunya orang-orang memperkaya pengetahuan mengenai berbagai informasi terkait hipertensi dan cara mengelolanya. Hal ini dapat membantu dalam menentukan langkah-langkah yang lebih baik untuk menjaga kesehatan.

Wirawan berpesan, menyandang predikat sebagai the silent killer, bukan berarti penyakit hipertensi menjadi akhir dari segalanya. Ketahui kondisi diri dan orang tercinta dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, tidak hanya untuk hipertensi, tetapi juga untuk mengetahui risiko penyakit lainnya.

"Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam, terutama jika memiliki faktor risiko hipertensi. Semakin cepat hipertensi dideteksi dan ditangani, maka semakin kecil risiko terjadinya penyakit komplikasi yang lebih berat," kata Wirawan.

Pilihan Editor: 3 Cara Atasi Hipertensi di Usia Muda

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."