Pentingnya Tambah Kebutuhan Gizi untuk Ibu Menyusui demi Cegah Stunting

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Ilustrasi menyusui. MomTricks

Ilustrasi menyusui. MomTricks

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan UI Ahmad Syafiq, Ir, MSc, PhD merekomendasikan sejumlah program yang perlu ditambahkan dalam intervensi spesifik penurunan kasus kekerdilan atau stunting khusus untuk ibu menyusui.

Ia menyebutkan hingga saat ini tercatat sebelas program intervensi spesifik penurunan stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kesebelas program itu menyasar pada siklus daur kehidupan perempuan, mulai dari saat masih menjadi remaja, calon pengantin (catin), pra-hamil, hingga melahirkan anak. “Untuk ibu menyusui, ini perlu ditambahkan program-programnya. Ibu menyusui ini penting sekali peranannya terkait dengan ASI eksklusif (pada saat setelah melahirkan). Peran mengawal ASI eksklusif itu sangat penting diperhatikan,” kata Syafiq dalam konferensi pers virtual, Selasa 19 Juli 2022.

Pertama, Syafiq merekomendasikan program terkait dengan status gizi ibu hamil. Ia menjelaskan bahwa status gizi menentukan berapa banyak cadangan lemak yang dibutuhkan untuk memproduksi ASI pada saat ibu memasuki periode menyusui. “Jadi pada saat hamil, ini (status gizi) sangat penting supaya sewaktu menyusuinya sudah siap dengan cadangan lemak yang cukup,” ujarnya.

Kedua, program terkait dengan inisiasi menyusui dini (IMD). Menurut Syafiq, proses IMD ini penting untuk ditambahkan ke dalam program intervensi spesifik karena terkait langsung dengan keberhasilan ASI eksklusif yang diberikan pada bayi selama enam bulan.

Ketiga, program yang perlu ditambahkan yaitu memastikan kecukupan gizi pada ibu menyusui karena tanpa konsumsi gizi yang baik, kata Syafiq, ibu menyusui bisa gagal dalam mengawal ASI eksklusif. “Diperlukan zat gizi yang cukup supaya ibu menyusui mampu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan,” tuturnya.

Syafiq menjelaskan bahwa kebutuhan gizi pada ibu dalam masa menyusui justru lebih tinggi jika dibandingkan dengan masa kehamilan, bahkan jika dibandingkan pada saat ibu tidak hamil. “Setelah anaknya lahir, jangan lupa ibu harus konsumsi lebih banyak gizi dibandingkan pada saat anaknya masih dalam kandungan,” ujar Syafiq.

Terakhir, ia merekomendasikan tambahan program terkait dengan edukasi manajemen laktasi yang benar pada ibu menyusui. Manajemen laktasi, terang Syafiq, mencakup durasi hingga frekuensi pemberian ASI dalam satu hari agar bayi bisa mendapatkan ASI secara baik dan kebutuhan gizinya terpenuhi.

Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 adalah 24,4 persen. Penelitian SEANUTS II juga menunjukkan angka prevalensi yang hampir tidak jauh berbeda, yakni 28,4 persen atau satu di antara 3,5 anak berperawakan pendek disebabkan oleh kekurangan gizi kronis. “Pemenuhan gizi yang belum tercukupi baik sejak dalam kandungan hingga bayi lahir dapat menjadi pemicunya (malnutrisi). Karenanya, penting bagi perempuan khususnya ibu dan calon ibu untuk membekali diri dengan pengetahuan terkait kebutuhan gizi berkualitas bagi diri, juga keluarga,” kata Syafiq.

Baca: 4 Tips ASI Lancar bagi Ibu Menyusui, Jangan Abaikan Perasaan Stres

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."