Ciri Anak Alami Stunting Tidak Hanya Pendek, Waspada Salah Dignosis

Ilustrasi stunting diturunkan dari orang tua? (pixabay.com)

kesehatan

Ciri Anak Alami Stunting Tidak Hanya Pendek, Waspada Salah Dignosis

Minggu, 27 Februari 2022 22:40 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, Jakarta - Dokter spesialis anak konsultan endokrinologi anak, Madarina Julia, mengatakan, perawakan pendek merupakan salah satu keluhan gangguan pertumbuhan yang sering menjadi alasan seorang anak untuk dibawa ke dokter spesialis anak. Para orang tua kerap cemas karena mengira anaknya menderita stunting. Padahal pendek bukan satu-satunya ciri anak alami stunting. "Tidak banyak yang menjelaskan bahwa stunting hanyalah salah satu dari berbagai penyebab perawakan pendek,” katanya dalam Konferensi Pers Merck dan BKKBN Umumkan Kolaborasi untuk Dukung Percepatan Penanggulangan Stunting di Indonesia pada 24 Februari 2022.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang mengalami asupan nutrisi yang buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak adekuat. Isu stunting ini semakin menggema dalam beberapa tahun terakhir. Orang tua kerap takut anaknya mengalami stunting karena penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa stunting adalah suatu kondisi yang akan sangat mengganggu perkembangan anak, terutama perkembangan kognisi. UNICEF mengatakan bahwa stunting akan membuat seseorang mempunyai prestasi pendidikan yang lebih buruk, lebih cenderung putus sekolah atau tidak mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maupun penghasilan/ pendapatan yang lebih rendah sebagai seorang dewasa.

Karena berkaitan dengan asupan nutrisi yang buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak adekuat, anak stunting tentu mempunyai riwayat gizi dan riwayat kesehatan yang kurang baik. Selain itu, anak stunting juga sangat mungkin mengalami gangguan perkembangan. Sehingga, untuk mendiagnosis stunting, selain tinggi badan yang pendek, anak stunting juga kurus dan mempunyai masalah perkembangan. Untuk dapat mendeteksi dini masalah ini, selain harus dipantau panjang atau tinggi badannya, setiap anak juga harus rutin ditimbang berat badannya, diukur lingkar kepalanya dan dinilai perkembangannya.

Madarina mengatakan stunting harus dapat dideteksi dan mendapatkan penanganan dini sehingga perkembangan otak pada 1000 hari pertama kehidupan tidak terganggu. Walau begitu, ia meminta jangan sampai ada kesalahan diagnosis stunting. "Dampak diagnosis stunting bisa berakibat buruk untuk anak," kata Madarina.

PT Merck Tbk (“Merck”) menjalin kemitraan dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam mengatasi masalah stunting

Menurutnya penanganan stunting dilakukan dengan memberikan tambahan susu atau makanan tinggi kalori kepada anak. Bila ternyata anak itu tidak stunting, maka pemberian nutrisi berlebih itu malah diberikan kepada anak yang tidak memerlukan. "Hal ini bisa sangat merugikan. Anak akan menjadi individu obesitas yang berisiko mengalami diabetes mellitus dan berbagai penyakit tidak menular di kemudian hari," katanya.

Ia mengingatkan saat ini kasus anak dengan obesitas semakin banyak terjadi. Masyarakat semakin kewalahan menangani masalah obesitas itu. "Angka anak obesitas ini terus meningkat. Diperkirakan 1-4 anak alami obesitas. Kasus ini sering terjadi di kota besar. Anak dengan obesitas saat dewasa rentan terkena banyak penyakit seperti kanker, jantung dan penyakit lain," katanya.

Madarina pun mengingatkan agar para orang tua melakukan pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala. "Kemajuan teknologi telah memungkinkan orang tua untuk bisa memantau tumbuh kembang anak melalui aplikasi tumbuh kembang. Deteksi dini stunting maupun perawakan pendek lainnya sangat penting. Dengan penanganan yang cepat dan tepat, tumbuh kembang anak dapat kembali optimal,” kata Madarina.

PT Merck Tbk (“Merck”) menjalin kemitraan dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam mengatasi masalah stunting. Kerja sama ini dituangkan dalam sebuah Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang program komunikasi, informasi dan edukasi mengenai pertumbuhan anak. Merck Indonesia bersama BKKBN mengadakan rangkaian program edukasi secara berkesinambungan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait masalah gangguan pertumbuhan pada anak. Selain itu, melalui pengenalan Kartu Kembang Anak (KKA) Online dalam bentuk aplikasi dari BKKBN, masyarakat diharapkan juga dapat lebih memperhatikan siklus tumbuh kembang anak agar tidak terjadi miskonsepsi perihal stunting dengan perawakan pendek.

“Kami harap melalui kolaborasi dengan BKKBN, angka stunting di Indonesia dapat semakin menurun dan masyarakat di seluruh penjuru Indonesia dapat memahami perbedaan stunting dengan perawakan pendek, serta melakukan pemantauan maupun pemeriksaan berkala tumbuh kembang anak dan berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat,” Presiden Direktur PT Merck Tbk, Evie Yulin.

Baca: Orang Tua Jangan Lengah, Awasi Ketat Pertumbuhan Anak Hingga Usia 2 Tahun