Orang Tua Jangan Lengah, Awasi Ketat Pertumbuhan Anak Hingga Usia 2 Tahun

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Ilustrasi ibu sedang menggendong bayi. (Unsplash/The Honest Company)

Ilustrasi ibu sedang menggendong bayi. (Unsplash/The Honest Company)

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Hardiono D Pusponegoro mengingatkan para orang tua mengenai pentingnya memperhatikan dan mengoptimalkan masa pertumbuhan anak pada dua tahun pertama usia mereka. "Saya mengajak para orang tua untuk memperhatikan dan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk masa depan mereka, salah satunya dengan cara mencari info yang benar," kata Hardiono dalam konferensi pers daring peluncuran Aplikasi & Pekan Tumbuh Tentang Anak, Jumat 11 Februari 2022.

Hardiono mengatakan, dua tahun pertama kehidupan anak menjadi fase penting bagi perkembangan otak anak. Inilah alasan pentingnya orang tua berkonsentrasi pada anak mereka sejak usia dini. "Kalau mau menjadi Indonesia lebih baik tentu harus berkonsentrasi pada anak terutama pada anak usia dini. Penelitian menunjukkan dua tahun pertama kehidupan fase penting untuk perkembangan otak anak," kata dia.

Selain fase perkembangan otak, orang tua juga perlu mewaspadai berbagai perkembangan anak. Menurut Hardiono, saat ini terdapat sekitar 30 juta anak usia 0-6 tahun di Indonesia dan sekitar 30 persennya mengalami berbagai gangguan perkembangan dalam segala bentuk dari ringan hingga berat.

Akibatnya, mereka tidak bisa meraih tumbuh kembangnya yang optimal. Masalah lain yang juga melanda anak-anak di tanah air yakni, stunting. Sekitar 1 dari 3 anak Indonesia masih mengalami stunting atau tubuh pendek akibat kurang gizi atau penyakit infeksi. "Tetapi akibatnya yang mengerikan, otaknya tidak berkembang dengan baik. anaknya jadi kurang pintar. Kita harus berkonsentrasi untuk mengatasi hal-hal ini," kata dia.

Hardiono juga menyoroti perilaku orang tua yang memberikan anak mereka pengobatan alternatif tanpa mengetahui bukti ilmiah pengobatan itu. Selain itu, ada juga yang mencari jalan pintas dalam mengobati masalah kesehatan anak mereka.

"Orang tua menggunakan alternative medicine kata si ini, itu kemudian dikasih ke anak. Kasihan anaknya kalau bukti ilmiahnya tidak ada. Misalnya, obat untuk anak dengan autisme, orang tua mencari berbagai obat termasuk susu kambing, sebetulnya secara ilmiah enggak ada gunanya. Buang-buang waktu, dan kasihan anaknya. Istilah saya jadi kurus dan loyo saja, pintarnya tidak," kata Hardiono.

Sebelumnya, Co-Founder dan CEO Tentang Anak, Mesty Ariotedjo, meluncurkan Aplikasi & Pekan Tumbuh Tentang Anak, Jumat 11 Februari 2022. Aplikasi Tentang Anak memiliki misi untuk mendampingi seluruh orang tua dan anak di Indonesia untuk memperoleh akses edukasi dan produk terbaik langsung dari pakar atau ahlinya secara gratis. Dia berpendapat, semua individu berhak atas informasi termasuk mengenai kesehatan anak dan akses terhadap edukasi yang terbaik dan itu seharusnya gratis.

"Tentang Anak berkomitmen untuk selalu memberikan edukasi secara gratis karena kami percaya semua individu berhak atas informasi, akses terhadap edukasi yang terbaik dan itu harusnya gratis," kata Mesty.

Sejumlah fitur yang bisa dimanfaatkan antara lain menu MPASI sesuai hitungan nutrisi, aktivitas harian untuk si kecil, evaluasi tumbuh kembang, jadwal vaksinasi, tanya jawab langsung dengan ahli setiap hari yang semuanya telah di personifikasi khusus sesuai kebutuhan anak hingga webinar gratis. "Lalu ada algoritma, misalnya tentang kejang demam, cedera kepala, mual muntah, apa yang bisa dilakukan. Kami berikan panduan untuk kegawatan anak di rumah sesegara mungkin," kata Mesty.

Baca: Mau Kenalkan Anak pada Gadget, Tunggu Usia Buah Hati Minimal 1,5 Tahun

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."