Hari Anak Perempuan Internasional, Perhatikan Hak dan Mulai Saling Mendukung

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Ilustrasi remaja gaul. Shutterstock

Ilustrasi remaja gaul. Shutterstock

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Pada peringatan yang ke-10, Hari Anak Perempuan Internasional yang dirayakan pada tanggal 11 Oktober, hadir untuk mendukung hak dan mendorong keterlibatan penuh anak perempuan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kehidupan mereka.

Dengan tantangan akibat pandemi dan kesenjangan digital telah menghadirkan dampak bagi perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia. Penelitian terbaru oleh Kotex, salah satu merek dari Kimberly-Clark, menemukan fakta bahwa saat ini anak perempuan di Asia Pasifik tumbuh dengan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan adanya kesempatan untuk bergabung bersama komunitas remaja perempuan sebagai mekanisme pendukung.

Penelitian ini menyoroti tantangan klasik pubertas yang saat ini terus ditekankan dengan latar belakang masalah tentang perubahan iklim hingga, cyber-bullying, dan harapan masyarakat yang tidak realistis. Sebagian besar remaja perempuan percaya bahwa keterbatasan sosial membatasi kesempatan yang mereka miliki, tetapi sekitar tiga perempatnya melihat sesama perempuan sebagai sekutu.

Ilustrasi remaja gaul. Shutterstock

Di seluruh Asia Pasifik, dimana stigma dan stereotip tentang menstruasi masih tersebar luas, perubahan sangat dibutuhkan. Fakta ini menggarisbawahi pentingnya peringatan Hari Anak Perempuan Internasional 2021 sebagai bentuk pengakuan terhadap remaja perempuan dan perjalanan mereka menuju masa depan yang diinginkan.

Untuk mendukung upaya penting ini, Kotex melibatkan komunitas perempuan di seluruh Asia Pasifik dalam kampanye Kotex #GirlUnrestricted, sebuah gerakan berskala regional untuk mendukung suara remaja perempuan, melawan stigma menstruasi di masyarakat, dan membangun masa depan melalui pendidikan.

Senior Marketing Manager Kotex Indonesia, Beatrix Wijaya mengatakan pihaknua mendorong para remaja perempuan untuk berani menjalani masa remaja mereka dengan caranya sendiri, dan tumbuh dengan lebih banyak ekspresi 'bisa' dan sedikit 'harus'.

"Kami percaya bahwa masa remaja yang tidak dibatasi adalah masa yang penuh dengan kemungkinan dan gambaran dunia yang lebih bersahabat dimana mereka dapat menjalani setiap petualangan, melihat sebuah kesalahan bukan sebagai kegagalan, tetapi sebagai kemajuan dalam perjalanan pertumbuhan mereka," ucapnya melalui siaran pers, Senin 11 Oktober 2021. 

Ilustrasi remaja (pixabay.com)

Hal tersebut sejalan dengan tujuan Kotex untuk menghilangkan hambatan para remaja perempuan untuk maju, baik dari stigma menstruasi ataupun faktor sosial lainnya. Dalam semangat Hari Anak Perempuan Internasional, kampanye #GirlUnrestricted Kotex mendorong para remaja perempuan untuk merayakan keunikan dan kekurangan mereka, serta mengajak mereka untuk memandang masa remaja sebagai perjalanan yang penuh dengan berbagai kemungkinan, bukan sebagai perjalanan dengan tujuan tanpa pilihan.

Untuk memulai kampanye, video #GirlUnrestricted akan diluncurkan di seluruh Asia Pasifik guna mendorong para remaja perempuan merangkul keunikan dan pengalaman masa remaja mereka dengan cara mereka sendiri. Berbagai aktivitas seperti pelibatan figur publik, organisasi non pemerintah berbasis remaja perempuan dan peningkatan program jangkuan sekolah yang sedang berlangsung, akan melanjutkan percakapan untuk melawan stigma dan mitos seputar menstruasi.

Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari program pendidikan kesehatan dan kebersihan menstruasi yang telah didukung oleh Kotex di Asia Pasifik selama 50 tahun. Pada tahun 2020, berbagai program yang telah dilakukan telah menjangkau 1,8 juta orang di Asia Pasifik, termasuk pemuda, orang tua, pendidik, dan tokoh masyarakat.

Baca: Tantangan Anak Perempuan Indonesia, dari Akses Pendidikan hingga Stigma

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."