Risiko Bicara di Transportasi Publik saat Pandemi Menurut Ahli

Petugas keamanan memberi himbauan untuk mengatur jarak antar penumpang di Stasiun Bekasi, Selasa, 2 Juni 2020. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) akan menyiapkan protokol kesehatan menghadapi tatanan normal baru untuk diterapkan ke pengguna dan petugas Kereta Rel Listrik (KRL). ANTARA/Fakhri Hermansyah

kesehatan

Risiko Bicara di Transportasi Publik saat Pandemi Menurut Ahli

Kamis, 18 Juni 2020 07:10 WIB
Reporter : Antara Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Dokter spesialis penyakit dalam dari Junior Doctor Network, Edward Faisal, mengungkapkan tetesan atau droplet kecil yang keluar dari mulut seseorang dapat bertahan 15 menit sebelum jatuh. Maka dari itu, kita dilarang bicara di dalam transportasi publik untuk mencegah risiko penularan virus corona baru atau Covid-19. 

"Untuk penumpang yang mengobrol, sebenarnya secara penelitian, ia akan mengeluarkan droplet kecil selama 15 menit. Ini menurut CDC, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit yang di Amerika. Karena itu penting diperhatikan, disarankan pakai masker untuk menahan laju droplet. Jadi tidak boleh ngobrol dulu memang," ujar Edward dalam sesi talkshow Rombongan Pengguna Kereta (Roker) Mantul yang Santuy Antre dan Anti Kuman di BNPB, Jakarta pada Rabu, 17 Juni 2020.

Untuk masyarakat yang naik transportasi publik bersama-sama, dengan teman ataupun keluarga, ia menyarankan untuk tetap menjaga jarak selama pandemi. "Pakai kode mata saja yang sedang pacaran. Nanti janjiannya di luar MRT atau commuter line," ujar dia.

Edward juga mengatakan berdasarkan penelitan diketahui jarak aman agar tidak terpapar SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 minimal satu meter. Droplet dari seseorang yang batuk baru jatuh setelah mencapai jarak minimal satu meter.

Jadi kalau ada yang masih "bermesraan" di dalam transportasi publik sebaiknya dihindari karena menjadi contoh pelaksanaan protokol kesehatan yang tidak baik.

Baca juga: 7 Kondisi New Normal Buat Penumpang KRL, Bawa Alat Salat Sendiri

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak berdesakan saat hendak masuk ke stasiun, di peron dan di dalam kereta. Tidak perlu pula menyelak penumpang lainnya karena bisa saja berisiko jika ternyata mereka orang tanpa gejala (OTG).

"Tapi saya ingatkan jangan melakukan stigma ke setiap orang ya," tutur Edward sambil mengingatkan lebih baik menjalankan protokol kesehatan secara disiplin, contohnya pakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak.

Salah seorang pengguna kereta Rachma Rini mengatakan rata-rata penumpang di dalam kereta tidak mungkin tidak memegang telepon genggam, karena mereka biasanya nonton, baca Al-Quran, atau main game. "Tapi kalau bercakap-cakap atau menerima telepon itu itu sudah jarang," ungkapnya.

Ia pun mengaku jika ada yang menelepon saat masih di dalam kereta biasanya tidak akan diterima untuk menghindari berbicara dan mengeluarkan droplet kecil tadi.