Cara Mendukung Ibu Baru Melahirkan yang Kehilangan Suami

Ilustrasi wanita bersedih. shutterstock.com

keluarga

Cara Mendukung Ibu Baru Melahirkan yang Kehilangan Suami

Kamis, 9 April 2020 21:00 WIB
Reporter : Eka Wahyu Pramita Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Wafatnya penyanyi Glenn Fredly akibat sakit meningitis atau radang selaput otak menjadi kehilangan yang tak akan mudah dilupakan oleh istri tercinta, Mutia Ayu. Glenn tutup usia bertepatan 40 hari usia putrinya, Gewa Atlana Syamayim Latuihamallo. Secara psikologis, ibu baru melahirkan membutuhkan banyak dukungan khususnya dari orang terdekat, yakni suami tercinta.

Sebab di masa ini mereka akan mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya sehari-hari. "Perubahan peran yang drastis dan semakin banyak ini, memang berpotensi menimbulkan risiko terjadinya ketidakstabilan mental pada ibu," ujar Psikolog Anisa Cahya Ningrum saat dihubungi Tempo.co, Kamis 9 April 2020.

Ibu baru bisa mengalami sindrom baby blues, yang ditandai dengan gejala mudah menangis, sensitif, sulit konsentrasi, gangguan tidur, dan mengkhawatirkan kondisi bayi. Gejala-gejala tersebut relatif normal, karena memang dalam proses penyesuaian dan ketidakstabilan hormon.

Kondisi psikologis ini bisa semakin memburuk saat kehilangan belahan jiwanya. Mereka bisa mengalami shock, stres, dan depresi. Di sinilah peran penting dukungan di sekelilingnya. 

"Pendampingan ini bisa dilakukan oleh para profesional atau psikolog. Bisa juga didukung oleh support system, dari orang-orang di sekitarnya," tutur Anisa.

Sejumlah hal yang bisa dilakukan keluarga dan teman mereka adalah menemani atau mengobrol hal-hal ringan yang tidak membebani pikirannya. Kekosongan hati akan menimbulkan pikiran-pikiran negatif yang berbahaya.

Jika si ibu yang bersedih masih bisa merawat bayinya, beri ia kesempatan. Namun perlu dipantau, agar ia tak melakukan hal-hal berbahaya kepada bayi saat mood-nya sedang tidak stabil. Sebaliknya, jika ibu terlihat lemah dan tidak mampu merawat bayi, maka harus ada orang lain yang melakukannya.

Coba ajak ibu berolahraga ringan, karena sirkulasi darah yang berjalan lancar, akan membuat ibu sehat dan bisa berkonsentrasi dengan baik. Jauhkan pula ibu dari benda-benda berbahaya, seperti senjata tajam, api, atau cairan-cairan tertentu. Khususnya jika tampak gejala-gejala menyendiri, mengucapkan ide-ide tentang 'kepergian', 'kehampaan', dan 'keputusasaan'.

"Dengan mendapatkan pendampingan yang optimal, ibu akan bisa berpikir lebih positif, tenang, dan tidak merasa sendiri. Orang yang paling diharapkan mendampingi dalam kondisi ini adalah orang tua, kakak, adik, atau sahabat-sahabatnya," imbuhnya.

EKA WAHYU PRAMITA