Mengenal Arvilla Delitriana, Pencetus Jembatan Lengkung LRT

Perancang jembatan termasuk jembatan lengkung LRT Jabodetabek, Arvilla Delitriana. TEMPO/Prima Mulia

profil

Mengenal Arvilla Delitriana, Pencetus Jembatan Lengkung LRT

Jumat, 17 Januari 2020 13:45 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Arvilla Delitriana atau Dina menjadi pembicaraan masyarakat setelah berhasil mewujudkan jembatan lengkung bentang panjang atau longspan kereta ringan alias LRT di kawasan Kuningan, Jakarta. Ide membuat jembatan tanpa tiang ini sempat ditentang, tapi Dina punya setidaknya tiga alasan untuk mempertahankannya. 

Dalam benaknya ia tidak mempertaruhkan keilmuan, institusi, atau bangsa. “Pokoknya ini bisa tanpa tiang di tengah, keukeuh saya mah gitu. Saya hanya ingin membuktikan secara teknis itu bisa,” katanya saat ditemui Tempo awal Desember 2019 di Bandung.

Alasannya, dari pilihan desain kontraktor PT Adhi Karya dan Kementerian Perhubungan dua tahun lalu, Dina melihat ada tiang di tengah jembatan lengkungnya. Dalih tiang itu karena jembatannya panjang sekali.

“Menurut saya masih make sense tanpa tiang di tengah. Tapi pendapat saya ditolak,” kata perempuan berusia 49 tahun itu.

Selain itu Dina membayangkan pengerjaan pondasi tiang yang masuk di sela fly over itu bakal sulit. Kalkulasi lain, yaitu biayanya mahal. “Saya lihat juga kurang megah kalau muncul tiang satu, kalau saya maunya tanpa ada tiang di tengah (jembatan).”

Konsultan dan kontraktor asal Prancis serta Jepang menentang idenya. Mereka, kata Dian, tidak yakin jembatang lengkung LRT itu nihil tiang di tengahnya karena bentangnya panjang. “Alasan utamanya adalah belum pernah ada, katanya mah di dunia saya nggak tahu ya. Kalau di Indonesia belum ada memang,” ujar perempuan kelahiran Tebing Tinggi, 23 April 1970 itu.

Modal dasar idenya yaitu pernah merancang jembatan lengkung memakai alat tipe balanced cantilever atau penyambung beton jembatan. Namun dia mengakui belum pernah merancang jembatan lengkung bentang panjang seperti yang di Kuningan.

Adhi Karya lalu menengahi dan memberi kepercayaan kepada Dina karena ide rancangannya harus diperjuangkan. “Nggak gampang juga saya harus bolak-balik meyakinkan. Saya menyampaikan hitungan-hitungan dan berbagai antisipasi,” ucap lulusan Teknik Sipil Institut Teknik Bandung (ITB) angkatan 1989 itu.

Setelah jembatan jadi pihak-pihak yang semula meremehkannya, ganti memuji. “Orang Jepangnya bilang Dina saya orang pertama yang paling menentang kamu untuk menghilangkan pier (tiang beton) di tengah (jembatan), sekarang kamu sudah melakukannya.”

ANWAR SISWADI (KONTRIBUTOR)