2 Tantangan Entrepreneur di Indonesia Timur, Terlalu Low Profile

ilustrasi pengusaha (pixabay.com)

karir

2 Tantangan Entrepreneur di Indonesia Timur, Terlalu Low Profile

Kamis, 12 Desember 2019 09:25 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Entrepreneurs’ Organization (EO) merupakan  organisasi global non-profit yang dibentuk secara eksklusif untuk para entrepreneur saling belajar. Salah satu visinya membantu para entrepreneur untuk berkembang dan bertumbuh melalui peer-to-peer learning, once-in-a-lifetime experiences, dan koneksi kepada entrepreneur yang lebih berpengalaman. 

EO hingga kini  telah memiliki jaringan di 60 negara dengan anggota kurang lebih 14.000 pemilik usaha. Salah satu chapter EO adalah EO Indonesia East yang saat ini memiliki 37 anggota aktif dari beragam industri dan secara kolektif perusahaan telah memberdayakan sekitar 24.000 karyawan.

Mengulik dari EO Indonesia East, Caroline Gondokusumo selaku President EO Indonesia East menuturkan pertumbuhan entrepreneur di Indonesia timur cukup agresif. Sejak empat tahun silam menjabat, Caroline melihat keragaman usaha terus tumbuh di Indonesia timur. Ia menyebutkan bidang pertanian, kriya dan kesenian, produk lokal hingga pertambangan yang ramai peminatnya.

“Di timur banyak sekali. Very aggressive dan cukup ambisius buat belajar. Cuma kalau diekspos, mereka masih agak sungkan. Mereka merasa belum besar, kok sudah diekspos. Sebenarnya kan eksposur itu bagaimana bisa menginspirasi wanita lain,” tutur Caroline saat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian di Jakarta, Rabu 4 Desember 2019.

Caroline Gondokusumo President of Entrepreneurs' Organization Indonesia East saat ditemui di konferensi pers Entrepreneurs Organization Womenpreneur Award (EOWA) 2020 di Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu 4 Desember 2019. TEMPO/Silvy Riana Putri

Menurut Caroline, ketidaknyamanan ini salah satunya dipengaruhi oleh sikap tertutup yang cukup kuat di masing-masing daerah. Selain itu, Caroline juga menyebutkan minimnya jalinan koneksi yang dibangun para entrepreneur di Indonesia timur.

Indonesia timur itu low profile, ingin di belakang layar saja. Tidak terlalu aktif di organisasi karena menurut mereka waktunya enggak ada. Padahal di organisasi itu banyak manfaatnya membangun relasi hingga belajar ke kampus,” ucap Caroline.

Lebih lanjut ia memaparkan, “Misalnya saat di konferensi, kita bisa share mau masuk ke negara mana, nanti entrepreneur yang di negara yang kita tuju akan menyambut bisa bekerja sama apa. Adapula investor yang tertarik. Jadinya, ada sinergi.”