Cara Bos YouTube Cegah Paparan Konten Negatif pada Lima Anaknya

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
CEO Youtube Susan Wojcicki. Instagram.com/@susanwojcicki

CEO Youtube Susan Wojcicki. Instagram.com/@susanwojcicki

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Sama halnya seperti orang tua pada umumnya, CEO YouTube Susan Wojcicki mengakui bahwa dia sendiri tidak mengizinkan anak-anaknya untuk menonton YouTube. Ibu lima anak ini hanya memperbolehkan mereka menonton YouTube Kids khusus untuk anak-anak.

"Saya mengizinkan anak-anak saya yang lebih muda untuk menggunakan YouTube Kids, tetapi saya membatasi jumlah waktu mereka menggunakannya. Saya pikir terlalu banyak hal bukanlah hal yang baik," kata Wojcicki dalam wawancara dengan Lesley Stahl, dikutip dari laman Business Insider pada Senin, 2 Desember 2019.

Bahkan di awal tahun 2019, Wojcicki pernah mengatakan ia terkadang mengambil telepon anak-anaknya, terutama ketika pergi berlibur. Hal ini dilakukannya supaya membantu anak-anaknya untuk tetap fokus dengan sekitarnya.

YouTube Kids pertama kali dirilis pada 23 Februari 2015. YouTube Kids adalah platform terpisah untuk YouTube biasa yang menghadirkan konten ramah anak untuk melindungi pengguna muda dari menemukan konten yang tidak pantas. YouTube Kids khusus ditujukan bagi anak-anak di bawah 12 tahun.

New York Times pada 2017 pernah melaporkan bahwa video yang tidak pantas untuk anak usia di bawah 12 tahun berhasil melewati perlindungan YouTube Kids. Seperti animasi yang menunjukkan karakter kartun sekarat dengan cara yang mengerikan.

YouTube Kids sejak September 2018 sudah resmi dirilis di Indonesia. ""Ini merupakan aplikasi yang membanggakan dan dapat memberi anak-anak kesempatan untuk mengeksplorasi keingintahuan mereka," kata Don Anderson, Head of Kids and Learning Partnerships YouTube Asia Pacific.

MARVELA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."