3 Sebab Perceraian Masa Kini, Lebih ke Masalah Ekonomi

Reporter: Bisnis.com
Editor: Rini Kustiani
Minggu, 13 Mei 2018 13:04 WIB
3 Sebab Perceraian Masa Kini, Lebih ke Masalah Ekonomi

CANTIKA.COM, Jakarta - Kasus perceraian di sejumlah daerah di Indonesia akhir-akhir ini mengalami peningkatan hingga 400 persen. Paling banyak yang menggugat cerai adalah istri kepada suami.

Baca juga:

7 Cara untuk Mencegah Perceraian
Perceraian Bisa Menurunkan Imunitas Anak

Seorang psikolog di Kemang Medical Care, Rahmi Dahnan mengungkapkan tiga penyebab perceraian berdasarkan kasus-kasus yang ditangani. "Penyebab terbanyak perceraian dewasa ini adalah perselingkuhan, pendapatan istri yang lebih besar, dan suami yang tidak bekerja," kata Rahmi Dahnan.

Untuk urusan perselingkuhan, menurut dia, suami dan istri memiliki peluang yang sama untuk melirik lawan jenis. Banyak suami atau istri keluar dari koridor pernikahan dengan menjalin hubungan perasaan dengan wanita atau pria selain istri atau suaminya. Mereka biasanya adalah rekan sekantor atau kerap berinteraksi di media sosial.

Dalam konteks selingkuh dengan rekan kerja, pria memiliki lebih banyak kasus ketimbang perempuan. Sebab, wanita kerier biasanya memilih pulang ke rumaah dan mengurus anak-anak setelah bekerja. Kasus peselingkuhan ini semakin parah jika masing-masing pihak, baik suami maupun istri, tidak memegang aturan agama dengan kuat.

Ilustrasi perceraian. Guardian.co.uk

"Secara agama laki-laki punya peluang untuk poligami, sedangkan wanita, bukan saja Islam, agama yang lain juga tidak membolehkan wanita memiliki lebih dari satu suami atau poliandri," ucap Rahmi Dahnan.

Artikel terkait:
Sedih Setelah Perceraian, Berikut 3 Langkah untuk Lanjutkan Hidup

Kasus perceraian dari gugatan istri juga semakin banyak karena semakin besarnya pendapatan mereka. "Saat ini semakin banyak istri yang memperoleh pendapatan lebih besar dari suami sehingga ketika merasa tidak dihormati lagi, mereka menggugat cerai suaminya," kata dia.

Penyebab ketiga perceraian adalah suami yang tidak bertanggung jawab, terutama karena tidak memiliki pekerjaan. Belakangan, banyak suami yang mengandalkan istri untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

Mereka tidak berusaha menjadi kepala keluarga yang baik dengan bekerja keras untuk menafkahi keluarganya. "Tidak memberi uang, tidak menunjukkan perilaku yang baik, malah galak dan tidak mau membantu pekerjaan rumah dan sebagainya. Sampai tabungan istri habis," ucap Rahma Dahnan.