Bolehkah Sekolahkan Anak Sejak Usia 6 Bulan? Ini Kata Ahli

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Ilustrasi kebersamaan ibu dan bayi. Foto: Unsplash/Ana Tablas

Ilustrasi kebersamaan ibu dan bayi. Foto: Unsplash/Ana Tablas

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Semakin banyak tawaran sekolah untuk anak usia dini. Beberapa bahkan sudah memasukkan anak ke sekolah sebelum anak berusia 1 tahun. Bagaimana pandangan ahli soal ini? 

Dokter spesialis anak RSIA Bunda Jakarta I Gusti Ayu Nyoman Pratiwi membenarkan itu. Sering kali orang tua berinisiatif untuk menyekolahkan anaknya di usia yang terlalu dini seperti usia 6 bulan agar anak memiliki kegiatan ketika orang tua bekerja dan tidak ada di rumah. Namun menurutnya, usia tersebut masih belum ideal karena ketahanan fisik anak masih lemah.

“Menurut saya sekolah itu harus ada syaratnya, mereka secara fisik memenuhi syarat artinya vaksinasi harus lengkap kemudian mereka sudah mulai jarang sakit, biasanya ketahanan fisik itu setelah usia 3 tahun,” kata dokter yang biasa disapa Tiwi dalam diskusi dengan Tokopedia sambut Hari Anak Nasional yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis 20 Juli 2023.

Selain belum memiliki ketahanan fisik, anak yang belum mempunyai jadwal makan pagi dan tidur yang teratur juga dikategorikan belum memenuhi syarat untuk bersekolah, sehingga perlu kebijaksanaan orang tua dalam memberikan pendidikan pada anak di luar rumah.

“Menyekolahkan secara dini boleh-boleh saja itu juga baik asal lingkungan di mana anak itu bersekolah atau berinteraksi dengan bayi-bayi lain itu memenuhi syarat jadi artinya jangan dia sakit terus dia sekolah sehingga akan menularkan penyakit,” saran dia.

Jika orang tua ingin memberikan pendidikan bagi anak di rumah, Tiwi menyarankan untuk melakukan stimulasi sejak anak masih bayi dengan stimulasi panca indera seperti kegiatan menyusui dan membelai.

Kemudian dengan bertambahnya usia bayi maka stimulasi yang diberikan akan bertambah kompleks seperti bergerak dalam bentuk motorik kasar dan motorik halus dalam bentuk interaksi dan bicara, serta dikenalkan dengan buku-buku bergambar sederhana.

“Prinsipnya di satu tahun pertama mereka bermain dengan tubuh ibunya secara fisik tanpa alat mainan, tetapi kalau ada mainan itu adalah media yang membantu orang tua atau pengasuh untuk bermain bersama bayi,” kata Tiwi.

Pilihan Editor: Tips Kembangkan Kemampuan Bahasa Anak dengan Permainan

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

ANTARA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."