Belajar Menerima Diri Sendiri Ala Sutradara Kamila Andini

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Sutradara Kamila Andini (Dokumentasi Pribadi)

Sutradara Kamila Andini (Dokumentasi Pribadi)

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Dalam memperingati hari perempuan Internasional 2022, Kamila Andiri bercerita soal pengalamannya memulai karier sebagai sutradara. Hari Perempuan Internasional kali ini mengambil tema soal #BreakTheBias 'Kesetaraan gender hari ini untuk masa depan yang berkelanjutan'.

Dalam unggahannya di Instagram, Kamila Andini membagikan perasaannya saat membuat film pertama kali di usianya yang ke-24. Kala itu, kata Kamila Andini, ia punya semua hal yang bisa membuat banyak orang meremehkan dirinya sebagai seorang sutradara. "Saya perempuan, masih sangat muda, tidak banyak pengalaman, tubuh saya kecil, saya sangat cengeng, saya gaptek, dan banyak hal lain. Sungguh bukan deskripsi seorang sutradara 'keren' yang di bayangkan banyak orang," tulisnya pada 8 Maret 2022.

Bahkan meskipun telah banyak karya film yang dibuatnya seperti 'Before, Now & Then (Nana)' yang masuk dalam nominasi Berlin International Film Festival di Jerman. Lalu, ada pula film 'Yuni' yang terpilih untuk menjadi perwakilan Indonesia di Oscar tahun 2022. Dengan berbagai karya yang sudah masuk ke berbagai ajang internasional, Kamila Andini menuturkan masih ada saja pertanyaan seolah tidak ada yang percaya film-film itu adalah buah tangannya.

Saat membuat film pertama itu pula, Kamila Andiri diliputi rasa khawatir karena bisa meruntuhkan citranya sebagai sutradara. Tidak jarang, ia berusaha menahan tangis ketika proses syuting berjalan. "Saya juga masih ingat selama saya syuting film pertama yang paling saya takutin itu nangis di lokasi, karena dulu saya pikir itu bisa meruntuhkan image saya sebagai sutradara. Tiap hari ngomong sama diri sendiri ‘jangan sampai nangis, jangan sampai nangis’ karena emang saya se-cengeng itu ," katanya.

Menurut Kamila Andini, ia masih sering mendapatkan pertanyaan dari orang lain di ajang internasional, menanyakan sosok pembuat filmnya. "Sampai kemarin aja di red carpet Berlinale tetep ada yang teriak nanya ‘how old are you?!’ dipikir masih anak2 kali ya," katanya.

Namun lama-kelamaan Kamila Andini mulai bisa menerima dirinya sendiri apa adanya. Sebab untuk menjadi profesional tidak hanya dengan satu cara, ada banyak cara termasuk dengan cara-cara yang bisa kita pikirkan dengan diri sendiri. "Gak pa2 untuk ga keliatan, gak pa2 untuk sentimentil. kemudian saya mulai gunakan itu untuk bercerita juga. Makanya ga usah bingung kalau film-film saya bikin nangis semua," tulisnya.

Dalam berkarya, Kamila Andiri mengatakan hanya ingin membuat ruang untuk perempuan menjadi dirinya sendiri. "Boleh emosional, boleh ribet, boleh cengeng. Profesional itu ga cuma satu cara. Kita bisa profesional dengan cara kita sendiri," katanya.

Lebih dari itu ia juga ingin karakter perempuan boleh menjadi perempuan di layar. "Boleh bingung, boleh ga konfrontatif, boleh terlalu mendengarkan orang lain, boleh berlapis-lapis," katanya.

Karena Kamila yakin dari sebuah kekurangan juga bisa menjadi sebuah kekuatan. Dari sebuah emosi, bisa menjadi sebuah karya yang mengungkapkan empati. Dan dari berbagai hal yang terjadi, bisa menjadi sebuah cerita yang berarti. "Jadi untuk siapa saja yang mau jadi sutradara dan masih merasa ragu, takut, ga pede. Sama, saya juga seperti itu."

Sutradara kelahiran tahun 1986 ini memang sangat menyukai dunia produksi film, sebab film dapat menciptakan suatu kemungkinan-kemungkinan. Dia juga percaya bahwa sinema adalah jendela untuk keberagaman. "Buat saya yang paling menyenangkan dari filmmaking adalah film menciptakan kemungkinan-kemungkinan," katanya.

Baca: Tayang Hari Ini, Kamila Andini: Film Yuni Sampaikan Makna Kebebasan

DIAH RETNO ANDANI

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."