Dilema Atlet Oksana Masters saat Bertanding di Paralimpiade dan Krisis Ukraina

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Oksana Masters/Foto: Instagram/@Oksanamasters

Oksana Masters/Foto: Instagram/@Oksanamasters

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta -  Atlet Paralimpiade, Oksana Masters mengunggah tulisan yang mengharukan di Instagram pada hari Jumat, 4 Maret 2022. Ia menyampaikan keresehannya karena merasa bersalah saat berkompetisi di Olimpiade Beijing sementara negara asalnya Ukraina sedang diserang (Masters memenangkan AS medali emas pertama Olimpiade untuk acaranya, biathlon – 6 kilometer putri).

"Sulit untuk menemukan hasrat dan keinginan saya untuk bersaing di kompetisi ini di tengah perang yang sedang berlangsung di negara asal saya, Ukraina," Masters memulai keterangannya, di samping foto dirinya sebagai seorang gadis muda di Ukraina dan foto yang lebih baru.

"Saya merasa egois, tidak berdaya, dan bersalah karena berada di sini," lanjutnya. "Namun, saya selalu bangga menjadi orang Ukraina, merasa sangat bangga saat melihat bendera Ukraina, dan sekarang lebih dari sebelumnya, saya yang paling bangga mengatakan bahwa saya orang Ukraina."

"Ibuku selalu mengatakan hati Ukrainaku membuatku tangguh; itu membuatku menjadi seorang pejuang," tulis atlet multi-olahraga dayung dan ski lintas alam tersebut.

Melanjutkan postingannya, perempuan berusia 32 tahun itu berkata, "Saya diingatkan bagaimana olahraga selalu memiliki kekuatan untuk menyatukan dunia" di tengah dimulainya Paralimpiade Musim Dingin.

Dia kemudian mencatat bahwa dia "akan berlomba untuk lebih dari sekedar tujuan saya sendiri, lebih dari satu tempat di podium," merinci, "setiap pukulan tiang, saya akan berlomba untuk keluarga dan anak-anak di Ukraina penyandang cacat."

"Sementara rakyat Ukraina berjuang untuk rumah dan kedamaian mereka, saya ingin membuat setiap garis start dan garis finis berarti sesuatu yang jauh lebih besar daripada perlombaan atau hasil," lanjut Masters. "Saya ingin membantu memastikan tidak ada anak yang terlupakan."

"Saya tahu bagaimana rasanya menjadi anak penyandang disabilitas di Ukraina di mana sumber daya untuk bantuan medis sangat tipis hingga tidak ada - lebih sekarang di tengah perang," pungkasnya sebelum meminta pengikutnya untuk mempertimbangkan mendukung No Child Kampanye yang terlupakan untuk membantu Ukraina.

Baca: Rusia Invasi Ukraina, Mila Kunis: Sangat Menghancurkan

PEOPLE

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."