Cegah Kekerasan Seksual, Ini Alasan Mengajarkan Anak Kekuasaan Atas Tubuhnya

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Ilustrasi kekerasan pada anak. health. wyo.gov

Ilustrasi kekerasan pada anak. health. wyo.gov

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di banyak daerah di Tanah Air sungguh memprihatinkan. Apalagi banyak korban yang masih di bawah umur. Oleh sebab itu, pendidikan seks harus diajarkan sedini mungkin untuk melindungi anak dari pelaku kejahatan seksual.

Konselor berbagai kasus keluarga disfungsional Susi Fitri mengatakan pendidikan seks yang benar bisa diperkenalkan sejak anak masih belia. Orangtua harus mengajarkan pada anak mana bagian tubuh yang boleh disentuh orang lain, mana yang tidak boleh disentuh siapa pun.

"Sudah bisa diajari sejak balita, beritahu juga pada anak bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dirahasiakan dan harus dilaporkan pada orangtua jika mereka merasa tak nyaman atas sesuatu," kata Susi Fitri dalam Webinar yang digelar Squad Kaget Yuk Rasan, Minggu, 19 Desember 2021.

Dosen Bimbingan Konseling ini menegaskan pendidikan seks bertujuan agar anak mengetahui tentang tubuhnya serta dapat waspada dan menghindar atau minta tolong ketika ada orang yang berniat melakukan hal yang tidak seharusnya.

Begitu pula dengan pencegahan sedini mungkin pada anak, mulai mengenalkan organ tubuh pada anak, termasuk bagian genital dengan bicara pada anak siapa yang boleh pegang dan siapa yang tidak boleh pegang. Lantas, kalau sudah masuk usia sekolah dasar perlu dikatakan apa yang harus dilakukan pada anak kalau anak mau dipegang oleh orang.

"Perlu mengajarkan anak kekuasaan atas tubuh mereka, jangan merasa anak tidak sopan, bisa jadi anak punya radar atau insting pada orang-orang yang menurut dia tidak nyaman. Penting bagi orang tua untuk percaya pada anak pada siapa saja dia ingin dekat, sebab terkadang anak sudah terbiasa bilang tidak enak sama orang lain.

Begitu pula ketika orang tua melihat kecenderungan anak untuk melawan, jangan selalu memaksa anak untuk patuh jika terkait dengan hal-hal yang membahayakan dirinya.

"Jadi semacam momen pembelajaran juga bagi orang tua, boleh mengalah pada anak kalau anak tidak mau tidak nyaman kontak fisik seperti salaman misalnya. Kelak ketika mereka dewasa jadi punya cara buat bertahan untuk melawan," pungkasnya.

Baca: Fokus Atalia Praratya pada Kasus Kekerasan Seksual, Selamatkan Masa Depan Korban

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."