Waspada Peningkatan Risiko Penyakit Jantung di Usia Muda, Ini Cara Pencegahannya

Ilustrasi Serangan Jantung. thestar.com.my

kesehatan

Waspada Peningkatan Risiko Penyakit Jantung di Usia Muda, Ini Cara Pencegahannya

Rabu, 29 September 2021 11:45 WIB
Reporter : Antara Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, JakartaPenyakit jantung acapkali diasosiasikan sebagai penyakitnya orang tua. Faktanya, saat ini tren penyakit jantung pada anak muda terus meningkat. Data World Heart Federation mencatat penyakit jantung sebagai penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Penyakit ini seringkali disebut sebagai silent killer karena dapat menyerang secara tiba-tiba.

"Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan, memulai sekarang lebih baik daripada tidak pernah memulai sama sekali. Tindakan pencegahan dini adalah perlindungan terbaik terhadap serangan jantung," kata Dr Seth Martin, Ahli Kardiologi dikutip dari siaran pers pada Rabu, 28 September 2021.

Menurut Dr Seth Martin, salah satu cara paling ampuh untuk mencegah serangan jantung adalah menjalani gaya hidup sehat, termasuk berhenti merokok.

"Jika Anda belum pernah merokok, jantung Anda mungkin berada dalam posisi yang lebih sehat dibandingkan seseorang yang merokok," tambahnya.

Selain itu, mengatur pola makan, aktif bergerak, dan berolahraga serta menghindari stres adalah langkah selanjutnya menuju hidup sehat dan bebas penyakit jantung.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), setidaknya 15 dari 1.000 orang atau sekitar 2,7 juta penduduk di Indonesia menderita penyakit jantung.

Penyakit jantung juga termasuk dalam salah satu dari Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menurut data Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2019, terdapat tren pergeseran pola yang dahulu lebih sering dialami kelompok usia lanjut namun sekarang sudah mulai mengancam kelompok usia muda dengan kualitas kesehatan yang rendah.

Tren tersebut diperkirakan akan terus meningkat, melihat kondisi pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya aktivitas fisik karena adanya pembatasan sosial, sehingga meningkatkan risiko terkena penyakit jantung. Selain itu, masyarakat juga menunda perawatan dan enggan mengakses layanan kesehatan karena khawatir tertular COVID-19.

Baca juga: Jenis Gangguan Jantung yang Perlu Diperhatikan, Gejalanya Nyeri Dada yang Khas