Dear Ladies, Cek Alasan Penting Memahami Masalah Kesehatan Organ Intim

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Ilustrasi perempuan rambut keriting. Pixabay.com/Jonas Svidras

Ilustrasi perempuan rambut keriting. Pixabay.com/Jonas Svidras

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta -  Mengenal permasalahan kesehatan pada organ intim perempuan (Feminine Issues) sangatlah penting. Sejak balita, perempuan telah dihadapkan dengan berbagai resiko kesehatan pada organ reproduksinya, mulai dari masalah keputihan, nyeri di masa haid, kesulitan menahan buang air kecil, gejala menopause, hingga otot-otot vagina serta otot panggul yang mengendur dan perubahan bentuk akibat proses melahirkan, serta masih banyak lagi.

Banyak perempuan dewasa di Indonesia enggan untuk mengomunikasikan kelainan yang mereka rasakan di area organ intim. Kelainan yang mereka rasakan pasca-melahirkan atau pertambahan usia yang memberikan efek kurang memuaskan pasangan pada hubungan suami istri merupakan hal yang sangat sulit dikomunikasikan.

Selain masalah kesehatan, keluhan lain yang banyak dialami oleh perempuan dewasa adalah melemahnya otot-otot vagina akibat proses melahirkan, riwayat melahirkan anak lebih dari satu dan penambahan usia sehingga menjadikan vagina terasa longgar ataupun kendur.

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan Alfa P. Meutia menjelaskan beberapa perempuan pasca-menopause banyak mengalami gangguan fungsional pada organ intimnya sehingga mengganggu hubungan seksual dengan pasangan dan menurunkan kualitas hidup.

"Salah satunya penurunan hormon estrogen pada perempuan yang dapat menyebabkan kondisi vagina menjadi kering. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa nyeri saat berhubungan dan lecet pada epitel vagina," ucap Alfa. 

Sejalan dengan masalah perempuan di atas, GynROSE Clinic hadir menyediakan berbagai layanan kesehatan kewanitaan untuk segala usia, mulai masa kanak-kanak hingga usia lanjut.

"Sudah menjadi rutinitas dan kebutuhan bagi para perempuan untuk melakukan berbagai perawatan demi menunjang penampilannya mulai dari rambut, kulit hingga wajah, namun perawatan organ intim kewanitaan sering kali terlupakan karena sikap cuek dan merasa dirinya bersih juga sehat," lanjutnya. 

Didukung oleh teknologi serta pengalaman selama puluhan tahun, RSU Bunda Jakarta menghadirkan inovasi terbaru sebagai pengembangan layanan Ginekologi yaitu GynROSE Clinic. Hadir sebagai solusi kesehatan khusus perempuan, GynROSE Clinic mengedepankan metode layanan “heart to heart” (konsultasi dengan dokter perempuan).

Tujuannya agar para pasien wanita dapat dengan nyaman berkonsultasi dan menyampaikan keluhannya. Berbagai masalah kesehatan organ kewanitaan yang dapat dilayani di GynROSE Clinic antara lain disfungsi dasar panggul perempuan, gangguan berkemih, gangguan buang air besar maupun buang angin yang tidak terkendali, disfungsi seksual perempuan, kelainan bawaan genitalia perempuan, hingga rejuvinasi (peremajaan). dan rekonstruksi vagina.

“GynROSE Clinic hadir sebagai solusi tepat bagi para perempuan yang memiliki permasalahan atau keluhan fungsional organ intim kewanitaan mereka. Didukung oleh tenaga spesialis dan teknologi yang modern, kehadiran klinik khusus perempuan ini diharapkan dapat membantu para perempuan Indonesia lebih memahami dan mengenal permasalahan kesehatan organ intim kewanitaan dan perawatannya.”

Dalam menangani permasalahan kesehatan organ intim kewanitaan, pihaknya melakukan beragam penanganan mulai dari intervensi perilaku, pelatihan otot, teknologi laser vaginal hingga pembedahan.

"Diharapkan kehadiran kami mampu memberikan solusi terbaik dengan pelayanan lengkap untuk menangani berbagai keluhan. Kami yakin, klinik ini akan mendapatkan sambutan yang positif dari para perempuan Indonesia, karena kami selalu mengedepankan pelayanan terbaik oleh tenaga-tenaga ahli di bidangnya” tambah Alfa.

Baca: Ada Bakteri Baik, Penting Jaga Kebersihan Organ Intim Kewanitaan

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."