Desak Pengesahan RUU PKS, The Body Shop Indonesia Lakukan Hal Berikut

The Body Shop Indonesia mendukung pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Instagram/@thebodyshopindo

ragam

Desak Pengesahan RUU PKS, The Body Shop Indonesia Lakukan Hal Berikut

Rabu, 10 Februari 2021 19:30 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - The Body Shop Indonesia mengumumkan kampanye mendesak pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Pada pertengahan 2020, draft undang-undang tersebut keluar dari Program Legislasi Nasional atau Prolegnas Prioritas 2020. Namun, di 2021, RUU PKS kembali masuk ke Prolegnas Prioritas 2021.

Seperti yang kita ketahui bersama, banyak perusahaan yang memilih diam atau menentukan sikapnya dalam sebuah kebijakan. The Body Shop Indonesia memilih jalan untuk vokal menyuarakan pilhannya. Sebagai merek kecantikan ternama di Indonesia, The Body Shop Indonesia menyadari betul ada peran lain yang bisa dilakukan suatu brand, selain berjualan. Hal itu pun sejalan dengan misi dari pendiri The Body shop di Inggris, Dame Anita Lucia Roddick yang juga aktivis perempuan. 

"Dia mempunyai misi brand itu tidak hanya melahirkan produk yang bisa dipakai masyarakat, dia meyakini sebuah brand bisa membawa perubahan. Jadi spirit itu yang terus bersama kita. Dua isu, yaitu lingkungan hidup dan perempuan," jelas Ratu Ommaya, Public Relations & Community Engagement Manager The Body Shop Indonesia, dalam InstagramLive Cerita Cantika episode 20, Jumat, 5 Februari 2021.

Spirit itulah yang terus dilestarikan Owner and Executive Chairwoman The Body Shop Indonesia, Suzy Hutomo, jelas Ratu Ommaya. Jauh sebelum berkampanye mendesak pengesahan RUU PKS, The Body Shop Indonesia juga pernah berkampanye soal Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada 2004 dan perdagangan manusia pada 2009-2012.

Lantas, apa yang dilakukan The Body Shop Indonesia untuk mendesak pengesahan RUU PKS? Yang pertama adalah adalah mengumpulkan 500 ribu tanda tangan untuk petisi "Stop Sexual Violence" hingga bulan Maret 2021.

"Saat ini sudah terkumpul 200 ribu," jelas perempuan yang sudah berkarier di bidang public relations selama 12 tahun itu.

Menurut Ratu Ommaya, nantinya berapa pun jumlah tanda tangan yang terkumpul di petisi akan dibawa ke komisi VIII DPR RI sebagai bentuk amanah dari orang-orang yang mendesak pengesahan RUU PKS.

Selain petisi, pada November 2020 silam melakukan aksi diam Shoes In Silence, sejumlah ratusan sepatu disusun di depan Gedung DPR, Jakarta. Selain sepatu para karyawan dan pelanggan The Body Shop Indonesia, ada pula sepatu dari korban dan penyintas kekerasan seksual. Setiap sepatu punya cerita yang mewakili si pemiliknya.

"Pandemi kita gak bisa bikin acara atau kumpul-kumpul. Jadi,akhirnya kita terinspirasi dari seniman asal Turki, Vahit Tuna, yang sempat memasang sepatu-sepatu sebagai art installation yang mewakili jumlah korban kekerasan seksual. Sepatu kan sebuah hal yang personal," tukasnya.

Kemudian sepatu-sepatu itu dipasang sebagai instalasi seni di Komisi Nasional Prempuan dalam rangka 16 hari anti kekerasan perempuan. Tujuannya mengedukasi agar masyarakat bisa mengetahui apa itu kekerasan seksual dan apa saja bentuk-bentuknya. 

Selain sepatu, juga ada instalasi aneka baju termasuk baju tertutup, panjang, dan bergaya manly. Maknanya ingin menunjukkan bahwa selama ini kerap korban kekerasan seksual dikaitkan karena faktor busana yang minim atau serba terbuka. Tapi faktanya, kejadian itu dipicu oleh pikiran si pelaku.

Upaya ketiganya adalah menggalang donasi untuk pendampingan psikologi edukasi korban kekerasan seksual di Yayasan Pulih.

"Donasi dikumpulkan dengan cara teman-teman mendonasikan langsung di toko The Body Shop Indonesia atau via online benihbaik.com," jelasnya.

Tak hanya terus mengedukasi masyarakat lewat leaflet di toko ataupun konten di media sosial, The Body Shop Indonesia juga telah beberapa kali berdiskusi dengan anggota Komisi VIII DPR RI yang membawahi lingkup tugas di bidang agama dan sosial. Dalam pertemuan itu, diharapkan ada perkembangan positif RUU PKS 

"Yang mungkin menjadi sebuah harapan bagi kita, di DPR itu ada namanya Kaukus Perempuan Parlemen. Kalau melihat perkembangannya  yang punya ssmangat yang sama, bahkan sudah berjuang bertahun-tahun untuk isu ini. Insya alalh kita optimis ada progress-nya," katanya.

Perlu diketahui dalam menginisiasi kampanye mendesak pengesahan RUU PKS, The Body Shop Indonesia berkolaborasi dengan sejumlah pihak seperti Yayasan Pulih Indonesia, Yayasan Magdelene, Makassar International Writers Festival, dan sejumlah influencer seperti Hannah Al Rashid.

Para pakar hukum di sejumlah universitas juga digandeng dalam diskusi menyeluruh bersama karyawan The Body Shop Indonesia untuk memahami betul draft undang-undang tersebut. Sejumlah tim juga menghimpun data dari kedua sisi, pro dan kontra, lewat mengikuti sejumlah webinar. Tujuannya demi mendapatkan data secara komprehensif.

Terkait pro kontra terhadap kampanye, The Body Shop Indonesia menganggap itu hal yang wajar.  "Untuk sebuah isu, pro dan kontra wajar terjadi. Kami sudah mempertimbangkan," tuturnya.

Menurut Ratu Ommaya, di situlah kesempatan mengedukasi dan menjangkau masyarakat lebih luas. Sebab kenyataan yang mereka temui di lapangan, belum banyak yang mengetahui tentang kekerasan seksual dan bentuk-bentuknya, salah satu contohnya siulan atau catcalling. Masih banyak yang beranggapan siulan itu candaan semata.

"Terus mengedukasi tetang kekerasan seksual dan jenis-jenis kekerasan seksual. Ternyata RUU PKS belum familiar untuk banyak orang, untuk sebagian orang mungkin, tapi masyarakat luas belum. Sambil ini berjalan, kita edukasi terus. Jadi, kita share informasi yang tepat, berdasar, dan integritas," imbuhnya. 

Satu hal yang tak boleh diabaikan pula, RUU PKS ini perlindungan bagi seluruh warga indonesia, perempuan, lelaki, hingga generasi penerus kita nanti. Bila ingin mengetahui lebih lanjut tentang kampanye "Stop Sexual Violence" yang diinisiasi The Body Shop Indonesia, bisa klik di sini.