Tips Redakan Cemas di Era New Normal Menurut Psikolog

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi wanita memakaikan masker pada orang lain. Freepik.com/Prostoleh

Ilustrasi wanita memakaikan masker pada orang lain. Freepik.com/Prostoleh

IKLAN

CANTIKA.COM, JAKARTA - Jika Anda khawatir dan cemas tentang era New Normal atau tatanan baru di tengah pandemi Covid-19, maka Anda tidak sendirian. Banyak dari kita yang merasakan hal yang sama sembari tetap beraktivitas demi kebutuhan hidup. Kondisi ekonomi hingga belum tahu kapan berakhirnya pandemi Covid-19 menjadi faktor utama timbulnya cemas. 

Di masa sulit ini, ahli menyarankan untuk melakukan hal-hal yang menggembirakan saat Anda dilanda kecemasan.

"Kita harus menyetujui ini sebagai strategi jangka panjang, selama berbulan-bulan sebab kita tidak tahu kapan kondisi ini benar-benar berakhir," kata Kevin Gilliland, psikolog klinis, seperti dikutip dari laman Very Well Mind pada Kamis, 18 Juni 2020. 

Gilliland juga menyarankan untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar bisa Anda kendalikan, seperti mempelajari dan memahami bagaimana mencegah terpapar virus corona, karena hal tersebut jadi strategi terbaik yang dapat kita gunakan.

"Kita tidak perlu tahu siapa yang membantah dan siapa yang tidak. Kita tetap fokus saja menjaga jarak sosial, sering mencuci tangan, membersihkan permukaan di rumah, dan bekerja secara teratur," imbuhnya.

Baca juga: 5 Cara Redakan Kecemasan Suami Istri di Tengah Pandemi Corona

Selain itu, Gillilan menekankan pentingnya tetap berhubungan dengan orang-orang terdekat Anda. Mulailah dengan lingkaran kecil seperti teman dekat dan berkumpul di luar di taman atau pekarangan dengan tetap menjaga jarak.

Berbincang bersama di luar rumah sembari menghirup udara segar bisa redakan kecemasan Anda. Tapi perlu ingat juga, pilihlah orang-orang yang tak akan meningkatkan kecemasan Anda. 

Saat berbincang dengan jaga jarak fisik minimal satu meter, Anda dan lawan bicara bisa melepas masker, jika kondisi sekitar tidak ramai. Sebab masker menjadi pengingat situasi sulit saat ini dari sisi psikologi.

"Orang-orang merasa cemas dan takut ketika mengenakan masker atau melihat orang lain memakai masker karena itu adalah pengingat visual dan konstan dari ancaman yang kita alami," kata Moe Gelbart, Direktur Pengembangan Praktik di Community Psychiatry, San Francisco, Amerika Serikat.

Masker bisa melambangkan adanya virus di luar sana yang menjadi musuh tak nampak dan menyulut kekhawatiran atas kurangnya kendali kita untuk menghentikannya. 

“Melihat wajah adalah aspek yang sangat penting dari sosialisasi kita,” ungkap Allie Shapiro, psikiater di Community Psychiatry.

Sementara itu, Cynthia Catchings, terapis Talkspace mengatakan pikiran kita saat ini sering bereaksi dengan cepat. "Kita bisa masuk ke mode pertarungan atau lari, dan hidup dalam keadaan hiper-rangsangan yang terus-menerus ini memengaruhi kita secara fisik, mental, dan emosional," tambahnya.

Catchings merekomendasikan strategi berikut untuk meredakan kecemasan

1. Latihlah perhatian, pernapasan dalam, atau meditasi.

2. Tetaplah pada waktu tidur dan waktu bangun yang teratur.

3. Berolahraga di siang hari.

4. Jangan takut untuk menangis jika emosi sudah tak bisa ditahan.

5. Bicaralah dengan teman, anggota keluarga, atau terapis yang empati.

6. Menulis jurnal atau terlibat dalam seni kreatif.

7. Gunakan visi kreatif dan bayangkan diri Anda merasa aman serta sehat.

Jika Anda mengalami peningkatan kecemasan saat berjalan-jalan menggunakan masker, berhentilah sejenak di tempat Anda berada, lalu tarik napas dalam-dalam.

"Jeda ini juga merupakan ide yang baik untuk mengingatkan diri sendiri mengapa Anda pergi ke luar dan ingat bahwa Anda sedang melakukan hal terbaik untuk menjaga diri Anda tetap aman," imbau Catchings.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."