5 Cara Jaga Pernikahan dari Orang Ketiga ala Nur Asia Uno

Sandiaga Uno dan Nur Asia Uno. Instagram.com/@nurasiauno

cinta

5 Cara Jaga Pernikahan dari Orang Ketiga ala Nur Asia Uno

Jumat, 12 Juni 2020 18:25 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Nur Asia Uno dan Sandiaga Uno telah membina biduk rumah tangga sejak 28 Juli 1996 ini. Selama hampir 24 tahun itu, mereka saling bekerja sama untuk menjaga keutuhan rumah tangga dari berbagai masalah, contohnya risiko godaan orang ketiga.

Gangguan orang ketiga atau yang kerap disebut dengan perebut laki orang (pelakor) salah satu masalah yang menghantui setiap rumah tangga. Menurut Nur Asia Uno, pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna, ia memilih tidak mau fokus pada masalah itu, karena godaan dalam pernikahan kerap menghampiri.

Ia lebih menyarankan untuk fokus dalam menyelesaikan masalah, jika hal itu terjadi. Dalam menyelesaikan masalah, ia memprioritaskan mana yang harus diselesaikan terlebih dulu.

"Kalau saya kembali pada solusi, apa masalahnya lalu diselesaikan, kalau tidak penting ya dibiarkan. Misal harus ditegur perlu situasi yang bagus, tidak dalam kondisi panas, keduanya tidak menjadi api yang membakar," ucap ibu tiga anak ini saat menjadi bintang tamu di Dignity Social Talk di Instagram TV Dita Soedarjo pada Rabu, 27 Mei 2020 lalu.

Kemudian Nur Asia Uno menganjurkan pilih momen dan waktu diskusi yang tepat saat berbincang dengan suami. Contohnya, berbincang saat makan bersama dan dalam suasana yang hangat. Setelah kondisi baik, sampaikan apa yang jadi masalah termasuk jika kita tidak suka kalau pasangan dekat dengan perempuan lain.

Tak hanya itu, Nur Asia Uno membagikan tips lain agar pernikahan terhindar dari orang ketiga untuk menjawab pertanyaan Dita Soedarjo selaku host bincang-bincang daring tersebut

1. Tetap percaya pada suami

Menurut Nur Asia Uno, dalam rumah tangga juga tidak lepas dari gosip. Ia menyarankan untuk merangkul kembali suami, jalin keterbukaan dan komunikasi dengan benar. "Mungkin selama ini kita sibuk, lupa mengurus ia, kita juga mesti membaca suasana mungkin suami kita tidak senang kalau kita jadi kurang perhatian," ucap Nur Asia.

Baginya, laki-laki tidak bisa diperlakukan keras seperti menggenggam pasir, kalau terlalu keras bisa jatuh pun begitu juga dengan kalau digenggam terlalu kendur akan jatuh.

"Pastikan kalau kita percaya sama suami sendiri daripada orang lain dan beri ia kepercayaan," imbuh perempuan 49 tahun itu.

2. Bicara baik-baik

Banyak perempuan yang senang dengan pria mapan. Nur Asia menyarankan untuk mengingatkan suami suka dan duka yang sudah dilalui, ada anak istri yang selalu mendoakan. "Sementara perempuan lain hanya datang saat sukanya aja dalam kondisi yang sudah settle," lanjutnya.

Bila perlu ajak bicara baik-baik si perempuan, jangan main labrak yang justru bisa merendahkan diri sebagai perempuan. Sebab kalau melabrak justru membuat perempuan lain itu senang.

"Kita harus menjadi orang yang memegang suami kita, jadi bicaralah yang baik-baik dengan perempuan itu agar dia respek sama kita. Katakan jika ia perempuan dan kalau perempuan baik-baik tidak seperti itu, ada rambu-rambu untuk menjadi perempuan terhormat," tukasnya.

3. Kembali ke komitmen awal

"Beri tahu di awal sebelum menikah, jangan sampai hal itu menjadi masalah kelak saat pernikahan. sampaikan hal-hal yang pahitnya," ucapnya.

Dengan mengetahui kekurangan masing-masing sedari awal seperti kembali ke komitmen awal. Jadi seandainya ada masalah sampaikan juga apa yang tidak kita sukai ke suami.

"Karena kalau enggak nanti jadi benang kusut yang susah kita buka. Jangan denial dan gengsi buat menyelesaikan masalah demi masalah," lanjutnya.

4. Upgrade diri

Selain mengurus rumah tangga, menurut Nur Asia Uno perempuan juga harus terus meng-upgrade diri. Nur Asia mengatakan jika lelaki senang dengan perempuan yang paham kondisi, kooperatif bisa membantu, dan menenangkan suami. Sebab kalau kita tahu kondisi bisa ikut menyelesaikan masalah dan bisa jadi teman diskusi.

5. Perhatian kecil

Nur Asia mengatakan cara beri perhatian kecil misal dengan bertanya makanan favorit suami atau menyiapkan pakaian kerjanya. 

"Kita bikin suami tergantung sama kita, jangan cuek dengan kebutuhan dan menyerahkan sama ART. Meski setrika sama ART tapi kita yang menyiapkan dan memberi langsung," lanjutnya.

Menurutnya, perempuan tidak harus menjadi wanita super di rumah, sebab kita memang manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan. "Tetapi dengan yang terbatas itu kita bisa melengkapi suami dengan kurangi insecure, pikiran negatif, dan open mind," ungkapnya.

EKA WAHYU PRAMITA