2 Sebab Masyarakat Sering Termakan Hoaks Virus Corona

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Seorang pekerja medis dengan pakaian pelindung terlihat di bangsal terisolasi sebuah rumah sakit di distrik Caidian setelah wabah virus corona baru di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 6 Februari 2020. China Daily via REUTERS

Seorang pekerja medis dengan pakaian pelindung terlihat di bangsal terisolasi sebuah rumah sakit di distrik Caidian setelah wabah virus corona baru di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 6 Februari 2020. China Daily via REUTERS

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Virus Corona atau COVID-19 yang mewabah sejak akhir Desember 2019 hingga saat ini sangat menarik perhatian masyarakat dunia. Di antara fakta yang beredar di media sosial, banyak tersebar hoaks atau berita bohong virus corona yang mudah dipercaya oleh masyarakat. 

Pakar informatika Roy Suryo mengungkapkan Kementerian Informasi dan Teknologi (Kemkominfo) sudah menemukan puluhan hoaks yang serius terkait corona. “Mulai dari 23 Januari sampai saat ini, ada 86 hoaks,” katanya saat ditemui usai acara Seminar Umum di Depok pada Kamis, 13 Februari 2020.

Menurut Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi Industri dan Investasi itu,  ada dua hal dasar yang membuat masyarakat meyakini kabar bohong tersebut.

Faktor pertama, adanya pergantian kabinet. Roy menjelaskan bahwa cara penyampaian informasi dari pejabat sebelumnya berbeda dengan yang saat ini. Perubahan itu berdampak pada pola pikir masyarakat dalam menanggapi suatu kasus, termasuk corona.

“Saya yakin mungkin hoaks tidak akan besar kalau tidak ada pergantian kabinet karena berhubungan dengan cara berkomunikasi yang berbeda dari masing-masing pemimpin,” tutur ia.

Selanjutnya, masyarakat juga sering termakan hoaks lantaran belum ada pernyataan yang kredibel seputar virus corona. Roy Suryo mengatakan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya cukup kritis. 

“Yang dibutuhkan itu sebenarnya jawaban dan penjelasan dari narasumber yang kredibel. Misalnya riset kenapa Indonesia sampai sekarang belum kena virus corona. Tidak perlu panjang yang penting pendek dan jelas pasti akan memudahkan masyarakat dalam menangkal hoaks,” tukas ia.

SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."