4 Hoaks Terkait Virus Corona, Ini Jawaban Menkes

Mahasiswi asal Aceh, Maulida (kedua kiri) menjalani pemeriksaan kesehatan sesampai dari kota Kaifeng, Cina saat tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, Rabu, 29 Januari 2020. Sebanyak 19 orang lainnya masih terisolasi akibat virus Corona di Cina. ANTARA/Ampelsa

kesehatan

4 Hoaks Terkait Virus Corona, Ini Jawaban Menkes

Kamis, 30 Januari 2020 13:45 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Topik hangat terkait virus corona diikuti pula dengan sejumlah hoaks atau berita bohong di masyarakat. Selain menyesatkan, kabar tersebut juga memicu kekhawatiran dan kepanikan di publik. Untuk itulah, Kementerian Kesehatan menangkis beberapa hoaks yang ramai diperbincangkan.

Hoaks pertama adalah gawai bermerek Xiaomi diduga bisa menyebarkan virus corona. Gawai tersebut memang dibuat dan diciptakan di Cina. Tak heran, banyak orang percaya bahwa penggunaannya bisa menyebarkan novel Coronavirus (nCov) alias virus corona yang sedang mewabah.

Selanjutnya, ada pula hoaks tentang membeli pakaian yang diimpor dari Cina bisa menyebabkan penyebaran virus corona. Maklum, banyak sekali barang Cina yang diekspor ke berbagai negara.

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengatakan bahwa virus corona hanya menyebar lewat kontak fisik dengan pasien. “Artinya mau pakaian atau barang apa pun dari Cina tidak berpengaruh untuk menyebarkan virus corona,” tutur ia saat ditemui di lapangan Kementerian Kesehatan Jakarta pada Selasa, 28 Januari 2020.

Hoaks lain yang beredar adalah tentang bawang putih bisa menyembuhkan virus corona. Tak menampik manfaat baik dari bawang putih, namun Terawan mengatakan bahwa hingga kini belum ada pengobatan yang ditemukan untuk mengatasi virus tersebut.

“Kalau sudah ada, pasti langsung diberitakan oleh WHO (Badan Kesehatan Dunia) untuk kita sampaikan ke masyarakat. Sekarang belum ada,” jelas Menkes.

Terakhir dan tak kalah menggemparkan, virus corona dijadikan konspirasi senjata biologis. Melalui informasi yang tidak jelas asalnya, diyakini virus tersebut digunakan Cina untuk menguasai dunia. Sehingga akhirnya, seluruh masyarakat di bumi takluk di bawah naungan Cina.

Menurut Terawan, memang banyak hoaks yang beredar seperti ini. Namun jika dikaji hingga saat ini, belum ada bukti yang membenarkannya. “Sumbernya tidak jelas, penelitian dan penyelidikan juga belum ada. Jadi belum tentu benar. Masyarakat harus lebih pandai memilah mana yang benar dan salah,” pungkas ia.

SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA