Nikita Mirzani Dijemput Paksa, Begini Efek Psikologis pada Anak

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Artis Nikita Mirzani sempat mengejutkan publik dengan tampil berhijab dan mantap berhijrah pada Juli 2018. Namun, tak lama kemudian, Nikita kembali membuat kontroversi dengan melepas hijabnya. instagram.com/nikitamirzanimawardi_17

Artis Nikita Mirzani sempat mengejutkan publik dengan tampil berhijab dan mantap berhijrah pada Juli 2018. Namun, tak lama kemudian, Nikita kembali membuat kontroversi dengan melepas hijabnya. instagram.com/nikitamirzanimawardi_17

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Nikita Mirzani dijemput paksa polisi dari Polres Metro Jakarta Selatan pada Jumat dini hari, 31 Januari 2020 di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Video detik-detik kedatangan Nikita Mirzani ke Polres Jakarta Selatan tersebar di media sosial. Di video itu terlihat Nikita Mirzani mengenakan kaos hitam dan topi putih berjalan di tengah-tengah wartawan yang mengelilinginya

Nikita kini ditahan Polres Jakarta Selatan atas dugaan kasus penganiayaan terhadap mantan suami ketiganya Dipo Latief. Salah satu efek dari penjemputan paksa yang dialami Nikita Mirzani  memisahkan ia dari anak-anaknya, yaitu Laura Meizani Nasseru Asry, Azka Raqila Ukra, dan Arkana Mawardi yang baru berusia 9 bulan dan masih menyusu dengan Nikita. 

Lantas bagaimana dampak anak-anak yang terpisah sementara dari orang tua mereka? Melansir laman The Oaks Treatment, Jumat 31 Januari 2020 menyebutkan jika anak-anak yang dipisahkan secara paksa dari orang tua mereka dengan cara ini tanpa orang dewasa yang dapat dipercaya untuk memberikan dukungan emosional, fisik dan mental bisa berdampak pada psikologis mereka.

Efek tersebut dapat bertahan hingga dewasa dan bahkan dapat menyebabkan trauma selama bertahun-tahun. Hal ini terjadi karena pemisahan anak-orang tua sebenarnya dapat mengubah perkembangan fisiologis anak.

Nikita Mirzani dijemput paksa polisi pada Jumat, 31 Januari 2020. (ANTARA)

Tantangan yang paling penting yang terjadi setelah perpisahan orang tua-anak yang traumatis melibatkan cara anak-anak melekat atau terikat pada orang dewasa di sekitarnya.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dalam situasi ini dapat menghindari komunikasi dengan atau terlibat dengan pengasuh baru. Mereka juga dapat menghindari keterlibatan dengan orang tua mereka jika mereka bersatu kembali. 

Anak-anak yang tiba-tiba terpisah dari orang tua tanpa dukungan yang tepat dapat berakibat dalam kondisi seperti ini:

1. Bertindak seolah-olah mereka tidak membutuhkan bantuan orang dewasa.

2. Menolak curahan kasih sayang dari pengasuh.

3. Mungkin menjadi sulit untuk menenangkan hati, bahkan setelah penyatuan kembali dengan orang tua.

4. Dapat berperilaku seolah-olah mereka mati rasa, atau sebagai alternatif, dapat bertindak dengan kelakuan negatif.

EKA WAHYU PRAMITA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."