Ibu Hamil Anemia Rentan Lahirkan Anak Stunting dan Perdarahan

Ilustrasi ibu hamil. shutterstock.com

kesehatan

Ibu Hamil Anemia Rentan Lahirkan Anak Stunting dan Perdarahan

Rabu, 18 September 2019 08:10 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Setengah ibu hamil di Indonesia mengalami anemia akibat defisiensi atau kekurangan zat besi. Kondisi ini memicu mereka rentan alami masalah kehamilan, yang paling fatal adalah perdarahan saat persalinan yang bisa berujung kematian. Selain itu, anak yang dilahirkan pun berisiko stunting.

Untuk mencegah hal tersebut, ibu hamil disarankan mengonsumsi suplemen zat besi setidaknya 90 butir sepanjang kehamilan. Zat besi berguna untuk membentuk hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke organ-organ dan jaringan. 

Lead Program Manager untuk Stunting Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Sekretariat Wakil Presiden RI, Iing Mursalin, mengatakan sebanyak 74 persen ibu hamil di Indonesia telah mendapatkan suplemen zat besi. Namun, tak banyak ibu yang mau mengonsumsi. Padahal suplemen ini diberikan gratis di Puskesmas.

“Dari 74 persen ibu yang dapat suplemen zat besi, hanya 34 persen yang mengonsumsi 90 butir tablet. Jadi jangan heran kalau angka anemia pada ibu hamil di Indonesia cukup tinggi,” ucap Iing.

Ia mengatakan, kebanyakan ibu hamil enggan mengonsumsi suplemen ini karena baunya tidak enak. Jika dikonsumsi, pil ini dapat membuat mereka mual dan muntah. Apalagi di trimester pertama yang kebanyakan ibu mengalami morning sickness.

“Tapi tergantung formulanya. Saat ini formula suplemen zat besi yang di Puskesmas telah diubah, diberi salut gula dan sirup sehingga rasanya manis dan tidak membuat mual,” ungkapnya.

Selain suplemen, ibu hamil juga bisa mendapatkan asupan zat besi dari makanan, terutama protein hewani seperti daging sapi, ikan, dan ayam.

Masalah anemia defisiensi zat besi di Indonesia bukan hanya terjadi saat hamil, tapi juga pada perempuan umumnya. Menurut data Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2013, sebanyak 25 persen remaja putri Tanah Air mengalami anemia. Kondisi ini pun patut menjadi perhatian. “Mereka juga akan menikah, dan setelah menikah mereka bisa menjadi ibu hamil anemia,” tutur Iing. 

 
MILA NOVITA