Dampak Buruk Fenomena Bersih-bersih ala Marie Kondo

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Yayuk Widiyarti

google-image
ilustrasi bersih-bersih rumah (Pixabay.com)

ilustrasi bersih-bersih rumah (Pixabay.com)

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Dalam buku dan serial Netflix, Marie Kondo, pakar merapikan barang, mengatakan beres-beres bisa mengubah secara dramatis hidup. "Mendetoksifikasi" ruang-ruang yang tak terpakai dan benda tidak berguna bisa membuat orang lebih bahagia, percaya diri, dan mungkin lebih kurus, kata Kondo di "The Life-Changing Magic of Tidying Up".

Fenomena metode beres-beres ala Kondo yang populer disebut KonMari langsung heboh di Amerika Serikat, bahkan dunia. Berkat Kondo, ada gerakan Inbox Zero, sebuah langkah populer manajemen email yang menekankan mengosongkan email di setiap akhir hari.

Artikel lain:
Trik Melipat Pakaian dengan Metode Marie Kondo

Para pendukung Kondo mengatakan melakukan ini dapat meningkatkan produktivitas dan manajemen waktu, dan mungkin juga menurunkan stres. Di luar filosofi peningkatan diri, ada popularitas "pornografi mengatur barang" di Pinterest dan Instagram yang berisi gambar barang-barang rumah tangga, seringkali yang berkaitan dengan makanan, disusun dalam kisi-kisi yang rapi dan simetris. Bahkan, di dunia desain grafis, ada tren serupa yang menekankan pendekatan "bersih," "sederhana," dan "minimalis".

Time melansir hidup berantakan memang buruk, semacam cacat pribadi atau eksistensial yang secara mental akan menyeret orang ke kondisi yang buruk. Tetapi bukti yang mendukung manfaat beres-beres masih membingungkan. Sebuah penelitian pada 2013 menemukan bahwa ruangan yang rapi mendorong pilihan yang sehat tetapi juga pemikiran "konvensional", sementara bekerja di ruangan yang berantakan atau tidak terorganisir meningkatkan kreativitas dan ide-ide baru.

Studi lain mengaitkan hidup berantakan dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah. Tetapi, salah satu penulis penelitian itu mengatakan bahwa kekacauan tampaknya merupakan gejala dari masalah lain, yaitu penundaan dan konsumerisme yang merajalela, alih-alih masalah itu sendiri.

Baca juga:
Terinspirasi Marie Kondo, Bersih-bersih Bantu Atasi Stres

 

"Dalam masyarakat berkelimpahan di tempat kita hidup ini, saya pikir gagasan bahwa kita harus memiliki lebih banyak membuat kita kurang puas dengan kehidupan,” kata Joseph Ferrari, rekan penulis penelitian dan profesor psikologi di DePaul University di Chicago, Amerika Serikat.

"Masalahnya bukan soal kelimpahannya, tapi kelekatan kita pada kelimpahan itu," ujarnya.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."