Suami Istri Sering Bertengkar, Awas Kesehatannya Terancam

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Yunia Pratiwi

google-image
Ilustrasi pasangan bertengkar. shutterstock.com

Ilustrasi pasangan bertengkar. shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Beberapa penelitian menyebutkan bahwa orang yang menikah cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik daripada mereka yang bercerai atau tidak menikah. Namun hubungan pernikahan yang buruk justru dapat menimbulkan efek sebaliknya.

Baca juga: Bagi Tugas Rumah Tangga dengan Pasangan dan Rasakan Manfaatnya

Hubungan pernikahan yang buruk dapat meningkatkan potensi timbulnya gangguan kesehatan fisik dan mental. Masalahnya bukan terletak pada pertengkaran antarpasangan, yang merupakan interaksi alami dalam hubungan jangka panjang seperti pernikahan. “Tapi penting bagi pasangan untuk mendiskusikan ketidaksepahaman itu,” kata Janice Kiecholt Glaser, direktur di Institut Penelitian Medis MasalahPerilaku di Universitas Negeri Ohio, Amerika Serikat.

Dalam penelitian terbarunya, Janice Kiecholt Glaser dan timnya mengevaluasi 43 pasangan suami istri untuk melihat bagaimana ketegangan dalam rumah tangga mempengaruhi kesehatan mereka. “Kami menemukan tingkat lipopolisakarida atau pengikat protein yang menandakan kebocoran usus lebih tinggi pada pasangan yang sering bertengkar,” ungkap Janice Kiecholt Glaser yang telah mempelajari kaitan antara penikahan dengan kesehatan manusia selama 25 tahun.

Tidak hanya itu, dalam penelitian sebelumnya Janice Kiecholt Glaser juga menemukan kaitan antara hubungan suami-istri yang kerap dilanda pertengkaran dengan potensi munculnya penyakit-penyakit berat. “Konsekuensi utama dari pertengkaran rumah tangga adalah munculnya berbagai konsekuensi kesehatan lain seperti penyakit yang terkait dengan peradangan, depresi, penyakit kardiovaskular, sindrom gangguan metabolisme, diabetes, dan penyembuhan luka yang lambat,” ujar Janice Kiecholt Glaser.

AURA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."