Wanita Lebih Rentan Terserang Kanker Tiroid, Simak Kata Dokter

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Yayuk Widiyarti

google-image
Ilustrasi tiroid. Shutterstock

Ilustrasi tiroid. Shutterstock

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Perempuan memiliki risiko 2–3 kali lebih besar terkena kanker tiroid dibandingkan dengan pria. Salah satu faktor pendorongnya adalah hormon yang dilepaskan wanita saat mengalami masa menstruasi atau saat hamil dan melahirkan.

Selain itu, radiasi nuklir atau radiasi dari pengobatan medis tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker tiroid, apalagi jika mengenai bagian leher dan kepala.

Artikel terkait:
Kenali 9 Jenis Kanker dengan Pemeriksaan DNA
Tiru Cara Shahnaz Haque Edukasi Putrinya tentang Kanker

Sementara itu, dokter spesialis bedah Sonar Soni Panigoro mengatakan anak-anak berusia di bawah 12 tahun yang memiliki riwayat benjolan pada leher memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker tiroid setelah dewasa. Pasalnya, kanker tiroid memiliki masa pertumbuhan yang sangat lambat sehingga jika tidak dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, pembengkakan tersebut akan berubah menjadi kanker.

Menurutnya, ada beberapa langkah pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi lebih lanjut kanker tiroid yaitu melalui ultrasonografi, biopsi, dan pemeriksaan darah.

“Jika positif terkena kanker tiroid, perlu dilakukan terapi dan pengangkatan benjolan dan kelenjar tiroid agar kankernya tidak menyebar,” ujarnya.

Ilustrasi tiroid. shutterstock.com

Setelah dilakukan operasi pengangkatan tiroid kadang masih ada kanker yang tersisa di dalam jaringan tubuh yang dapat berpotensi kembali kambuh atau menyebar. Sisa tersebut dapat dihancurkan dengan metode ablasi melalui terapi nuklir atau terapi yodium radioaktif.

Hapsari Indrawati, pakar kedokteran nuklir dari Rumah Sakit Siloam MRCCC Jakata mengatakan cara kerja terapi nuklir sangat sederhana. Pasien yang sudah dioperasi akan diberikan pil atau cairan yang berisi yodium radioaktif lalu dimasukan ke ruangan isolasi selama dua hingga tiga hari.

“Pasien harus diisolasi karena dia akan menjadi sumber radiasi bagi orang lain. Baru bisa keluar setelah radiasi di tubuhnya normal seperti radiasi matahari,” ujarnya.

Baca juga:
Sel Kanker yang Tidur Bisa Bangun Lagi karena Gaya Hidup Sembrono

Hapsari menjelaskan bahwa kelenjar tiroid memiliki tugas mengubah yodium yang dikonsumsi menjadi sumber energi. Ketika yodium radioaktif yang dikonsumsi maka tiroid akan tertipu dan “memakan” yodium tersebut sehingga sel kanker yang tersisa akan dihancurkan oleh kandungan radioaktif yang ada di dalamnya.

Terapi nuklir ini aman dan tidak akan mengganggu area lainnya karena penyebarannya hanya difokuskan pada sel kanker tiroid sehingga tidak akan menyebar. Setelah proses ablasi, pasien akan diminta untuk melakukan pengecekan kembali enam bulan ke depan untuk memastikan sel kanker telah hilang sama sekali.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."