Ibu Milenial Harus Waspada dengan 5 Jebakan Pola Asuh Kekinian

Ilustrasi Ibu (pixabay.com)

keluarga

Ibu Milenial Harus Waspada dengan 5 Jebakan Pola Asuh Kekinian

Minggu, 29 April 2018 19:05 WIB
Reporter : Tabloid Bintang Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Jakarta - Istilah ibu milenial kian mengemuka dengan banyaknya ibu yang memanfaatkan teknologi dalam pola pengasuhan. Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, di balik kelebihan ibu milenial, ada beberapa kekeliruan yang tanpa disadari sering mereka lakukan serta berdampak pada kehidupan mereka dan anak-anak.

Baca juga:Ibu Zaman Now Terapkan Metode Drone Parenting, Ada Plus Minusnya

Berikut ini kesalahan yang biasanya dilakukan ibu milenial dalam pola pengasuhan mereka.

1. Tidak menyaring informasiDengan kemudahan memperoleh informasi, tantangan terbesar ibu milenial adalah menyaring informasi yang benar dan baik diterapkan. "Terkadang ibu kewalahan karena terlalu banyak informasi. Ibu lupa kalau tidak semua hal bisa dan tepat diterapkan untuk anak," kata Vera.

Jadi, sebelum menerapkan metode apapun dalam mengasuh anak, seorang ibu harus mengenal anak lebih dulu. Ketahui usia dan kemampuan yang harus dicapai anak sesuai usia perkembangannya. Sebab, ibu kerap berpatokan kepada orang lain, misalnya dengan melihat anak-anak selebriti kemudian ingin ikut-ikutan. "Padahal ibu seharusnya menyaring dan mempertimbangkan informasi yang didapat," kata Vera.

2. Menggunakan gadget tanpa batasGadget menjadi perangkat tak terpisahkan dari kehidupan ibu milenial dan anak-anak mereka. Meski mulai banyak orang tua menyadari penggunaan gadget berlebih dapat membahayakan anak, nyatanya masih banyak anak yang terkena dampak negatif penggunaan gadget sejak dini yang tidak dibatasi dengan baik.

"Masalah yang sering terjadi pada anak-anak yang terlalu banyak bermain gadget adalah terlambat bicara," kata Vera. "Anak boleh bermain gawai dan memang tidak mungkin menghindari gadget di era digital ini, tapi berikan batas."

3. Terlalu berusaha jadi ibu sempurnaMedia sosial banyak memamerkan kehidupan ibu dengan anak yang terlihat sempurna, sehingga tanpa disadari membuat para ibu milenial memaksakan diri menjadi ibu yang sempurna, seperti apa yang mereka lihat di media sosial. "Padahal tidak ada orang yang sempurna. Jangankan ibu baru, ibu yang sudah punya anak dua atau tiga pun pasti berbeda pengalaman. Jangan berusaha keras menjadi ibu yang sempurna, tetapi jadilah ibu yang baik," kata Vera.

4. Tidak siap menghadapi kejadian di luar rencanaTerlalu menginginkan semua hal sempurna, ibu kerap tidak siap ketika rencana harus berubah karena situasi tertentu. Misalnya ibu berencana memberikan ASI eksklusif, tapi nyatanya tidak memungkinkan. Tidak siap dengan perubahan, ibu rentan stres.

"Menjaga kesehatan mental ibu itu penting. Dan harus diketahui, menjadi ibu itu tidak berarti mengalami hal yang indah-indah saja," ucap Vera. Ada tantangan yang terkadang di luar rencana dan harus dihadapi. Kalau tidak siap, ya risikonya ibu rentan terkena penyakit mental seperti baby blues atau depresi pascapersalinan.

5. Mudah terjebak mommy warsIbu milenial sering kali mudah terseret mommy wars atau perang pendapat antaribu di media sosial. Padahal, setiap orang punya kondisi berbeda-beda sehingga tidak bisa saling dibandingkan. "Setiap ibu itu unik, anak juga unik, situasi yang dihadapi pun berbeda. Kita tidak bisa mengecap ibu yang tidak memberikan ASI itu tidak baik," kata Vera.

Banyak cara untuk menjadi ibu yang baik bagi anak dan jangan memusingkan pendapat orang lain. Dukungan dari orang-orang terdekat seperti suami dan keluarga, itulah yang terpenting.

AURA