Kamus Kecil, Puisi Favorit Najwa Shihab, Karya Joko Pinurbo

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rezki Alvionitasari

google-image
Najwa Shihab/Foto: Instagram/Najwa Shihab

Najwa Shihab/Foto: Instagram/Najwa Shihab

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Jurnalis Najwa Shihab membagikan kenangannya saat berbincang dengan Joko Pinurbo. Sastrawan yang akrab disapa Jokpin tersebut meninggal pada Sabtu, 27 April 2024.

Pada unggahan video di Instagram, Nana, sapaan Najwa, tampak mewawancarai Jokpin. Dia lantas meminta pria tersebut membacakan puisinya yang dia anggap berhasil.

"Waduh, banyak sekali kemarin yang saya bikin," ucap Jokpin bercanda seraya meraih catatan putih. Nana pun meminta penonton memberi tepuk tangan sebelum Jokpin memulai puisinya.

"Judulnya Kamus Kecil..

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu Walau kadang rumit dan membingungkan

Ia mengajari saya cara mengarang ilmu

Sehingga saya tahu

Bahwa sumber segala kisah adalah kasih

Bahwa ingin berawal dari angan

Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba

Bahwa segala yang baik akan berbiak

Bahwa orang ramah tidak mudah marah

Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih

Bahwa seorang bintang harus tahan banting

Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan

Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira

Sedangkan pemulung tidak pelnah merasa gembila," penonton pun tergelitik dengan kalimat Jokpin yang terdapat humor, sisi lain yang juga ada pada dirinya.

Najwa mengungkapkan, setiap diminta menyebutkan puisi favorit, dia langsung melontarkan judul Kamus Kecil. "Maka, alangkah puitisnya malam itu, ketika setiap lariknya teruntai langsung dalam suara penyairnya, yang sekaligus penyair favorit saya, Joko Pinurbo," ucap Nana pada caption.

Dia melanjutkan, membaca puisi Jokpin ibarat genggaman erat yang menarik pikiran dan hati ke sebuah perjalanan yang menyenangkan. Tak berhadapan dengan struktur sajak rapi, rima teratur, atau pilihan kata asing yang menuntut kamus untuk mencari kemungkinan makna tersirat.

"Yang ditebarnya kosakata sehari-hari yang tak lain dari percakapan orang-orang di tempat umum: celana, kopi, kamar mandi, telepon genggam, dll. Lalu, di antara tebaran kata itu, terbangun ruang demikian luas untuk kita menghayati kehidupan. Dan pagi tadi saya dengar kabar itu, kabar kehilangan. Ini luluh yang berbeda. Oleh rasa sesak dan duka, bukan oleh kebungahan yang biasa saya temukan dari puisi terbaik Joko Pinurbo. Terima kasih Mas Penyair. Terima kasih sudah membacakan Kamus Kecil. Terima kasih sudah menulis Kata Pengantar indah untuk Catatan Najwa. Terima kasih sudah berpuisi. Terima kasih sudah membuat saya terus belajar menyelami kata-kata itu:

bahwa sumber segala kisah adalah kasih

bahwa ingin berawal dari angan

bahwa ibu tak pernah kehilangan iba

bahwa segala yang baik akan berbiak."

Pilihan Editor: Raditya Dika, Okky Madasari, dan Leila S. Chudori Kenang Joko Pinurbo: Puisi-puisimu Abadi

INSTAGRAM

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."