4 Cara Menjaga Batasan dengan Mantan Suami

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi perceraian. Shutterstock

Ilustrasi perceraian. Shutterstock

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Apakah bisa menjalin hubungan dengan mantan suami? Jawabannya bisa, menurut Cassandra Love Lambert, pelatih kehidupan yang memiliki sertifikasi di bidang otak, pelatihan somatik, dan teknik kebebasan emosional. Meski terdengar berlawan dengan intuisi, Lambert  meyakini menerapkan batasan jadi fondasi hubungan Anda dengan mantan suami. Berikut beberapa cara menjaga batasan dengan mantan suami menurut Lambert.

1. Memperjelas Keinginan Anda

Menurut Lambert, langkah pertama untuk menghadapi mantan suami, yaitu memperjelas keinginan Anda sendiri (atau kekurangannya) terkait dengan hubungan tersebut.

“Anda berhak mengatakan tidak tanpa rasa bersalah, diperlakukan dengan hormat, memprioritaskan kebutuhan Anda, menerima kesalahan Anda dan menolak ekspektasi yang tidak masuk akal dari orang lain,” katanya dikutip dari Purewow.

Ajukan pertanyaan spesifik ke diri sendiri, misalnya tidak ingin diberi tahu soal pacar dari mantan suami atau cuti tiga bulan berkomunikasi dengan dia. Atau keinginan Anda mungkin lebih umum, seperti menginginkan komunikasi yang tenang dan penuh hormat. Dedikasikan waktu untuk bertanya pada diri sendiri bagaimana Anda ingin diperlakukan ke depannya.

2. Kenali Interaksi yang Membuat Anda Tidak Nyaman

Terkadang cara terbaik untuk membayangkan apa yang Anda inginkan adalah dengan menentukan apa yang tidak cocok untuk Anda, menurut Lambert. Jika pikiran Anda menjadi kosong ketika ditanya pertanyaan-pertanyaan besar seperti “bagaimana saya ingin diperlakukan secara emosional, fisik, dan psikologis oleh orang ini?” konselor menyarankan untuk menelusuri daftar terperinci ini:

- Apakah saya merasa nyaman menerima SMS dan seberapa sering saya tidak keberatan?

- Apakah saya lebih suka teks transaksional atau pribadi?

- Apakah panggilan telepon diperbolehkan, dan jika ya, topik apa yang boleh saya diskusikan?

- Seberapa sering panggilan ini harus dilakukan dan berapa lama durasinya?

- Apakah email merupakan cara berkomunikasi yang lebih disukai dan lebih aman?

- Jika saya harus berada di dekat orang ini, apakah saya merasa lebih baik jika mempunyai teman bersama saya?

"Hindari kebiasaan-kebiasaan yang menyenangkan orang lain dengan secara jelas mengidentifikasi “Tidak” dan hal-hal yang dapat merusak kesepakatan,” ucap Lambert.

3. Komunikasikan Preferensi Anda

Setelah Anda memiliki daftar batasan yang Anda inginkan, inilah waktunya untuk membagikannya. Luangkan waktu untuk memilih antara obrolan tatap muka, panggilan telepon, Zoom, atau email. Kehadiran pihak ketiga bisa menjadi pertimbangan. Lambert menyarankan untuk membawa daftar kebutuhan Anda dan hal-hal yang tidak dapat dinegosiasikan agar komunikasi tetap berjalan pada jalurnya.

4. Bernegosiasi dengan Jelas dan Saling Bertanggung Jawab

Jujurlah pada diri sendiri. Apakah mantan mendengarkan Anda? Apakah ada penolakan terhadap batasan Anda, dan apakah Anda mampu berdiri teguh? Apakah Anda dapat berkompromi dalam bidang fleksibel Anda? Jika tidak, diskusi tambahan mungkin diperlukan. Jika Anda memang mencapai kesepakatan, tuliskan syarat-syarat yang disepakati agar Anda berdua dapat bertanggung jawab ke depannya.

Menetapkan batasan adalah proyek yang berkelanjutan, proyek yang mungkin tidak akan berubah menjadi pengaturan yang dibuat dengan sempurna dalam satu kali percobaan. Dan ketika ada problem seperti anak atau tanggungan keluarga, hewan peliharaan, dan bahkan kepemilikan aset bersama, rinciannya menjadi lebih rumit dan kebutuhan akan bantuan hukum menjadi lebih besar. Namun, baik Anda berbagi properti, balita, atau hewan peliharaan, Anda sebaiknya mencoba tips-tips di atas

Pilihan Editor: Tetap Harmonis, Demi Moore Ucapkan Ulang Tahun untuk Mantan Suami

PUREWOW

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."