Hindari 6 Kebiasaan Ini saat Terapi dengan Psikolog

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Konsultasi Psikolog. shutterstock.com

Konsultasi Psikolog. shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, JakartaTerapi dengan psikolog atau ahli profesional idealnya adalah tempat yang aman bagi Anda untuk mengatakan apa pun yang ada dalam pikiran. Namun, meski tidak ada topik yang dilarang, mungkin ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya dihindari agar tidak mengurangi esensi sesi terapi itu sendiri.

"Proses terapi bisa memakan waktu lama dan rumit. Hal aneh yang kami temui sebagai terapis adalah kebiasaan yang dilakukan klien terkadang dapat mengganggu proses terapi," kata Alana Carvalho, terapis keluarga dan penulis ‌Raising Empowered Children dikutip dari Livestrong, 5 November 2023.

Lantas kebiasaan apa saja yang perlu dihindari? Berikut enam di antaranya.

1. Tidak Menceritakan Pengalaman Terapi Sebelumnya

Meskipun Anda telah melewati beberapa sesi terapi sebelumnya, Anda perlu membahasnya kembali ketika berada di terapi yang Anda jalani. Walau rasanya tidak nyaman dan tidak relevan, nyatanya informasi ini penting diketahui ahli terapis Anda yang sekarang.

“Mengetahui apa yang membantu dan apa yang tidak membantu dalam terapi, serta isu-isu yang telah ditangani, dapat membantu memberikan informasi kepada terapis tentang apa yang harus mereka lakukan,” kata Carvalho.

Maka dari itu, jika Anda pernah menjalani terapi sebelumnya, jujurlah tentang hal itu. Terapis Anda tidak akan menghakimi Anda.

Faktanya, memiliki gambaran lengkap tentang riwayat Anda dapat membantu mereka membantu Anda dengan lebih baik.

2. Tidak Berbagi Apa pun 

Tidak punya apa-apa untuk dibagikan sering kali merupakan kode untuk merasa seolah-olah Anda tidak punya sesuatu yang besar atau penting untuk dibagikan.

“Kadang-kadang orang merasa sadar diri tentang apa yang cukup penting untuk dilakukan dalam terapi, sehingga mereka memilih untuk tidak berbagi banyak hal,” kata Carvalho.

“Kenyataannya adalah apa pun yang dibagikan klien dalam terapi dapat membantu dan memberikan pemahaman tentang pola dan masalah yang lebih besar,” tambahnya.

Besar atau kecil yang ada dalam pikiran Anda, tetaplah berbagi karena itu sangat berharga untuk terapis.

3. Sambil Mengerjakan Hal Lain saat Terapi via Daring

Di masa yang dipermudah teknologi sekarang, memungkinkan terapi dilakukan secara daring. Tetapi terapi dengan cara ini memberikan distraksi yang besar terutama bagi pasien. Hal ini bisa menjadi tantangan bagi Anda dan terapis untuk memperbaiki kesehatan mental Anda. 

Jika diadakan terapi via daring, maka lakukan perencanaan terlebih dahulu. Luangkan waktu Anda tanpa adanya gangguan. Hindari janji di hari itu dan jangan kerjakan tugas lain selama terapi.

4. Tidak Mengungkapkan Ketidaksetujuan

Mungkin ada saatnya Anda tidak setuju dengan apa yang dikatakan atau dilakukan terapis, yang bisa membuat Anda merasa disalahpahami. Jika ini terjadi, Anda dapat menentang atau tidak setuju dengan mereka.

Anda tidak perlu khawatir, terapis tidak akan merasa tersinggung dan marah.

“Sebagai terapis, kami dilatih untuk terbuka terhadap masukan dan menerima segala kekhawatiran, terutama mengenai perawatan Anda,” kata Allie Kidd, terapis berlisensi di New York dan Ohio, Amerika Serikat.

“Jangan sungkan berbicara dengan terapis Anda, terutama itu adalah hal yang paling penting untuk hubungan dan penyembuhan," katanya.

5. Menyembunyikan Soal Keinginan Bunuh Diri

Orang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri mungkin khawatir memberi tahu terapisnya karena mengakibatkan penilaian, berakhirnya sesi, atau menyebabkan mereka dirawat di rumah sakit jiwa.

“Meskipun kekhawatiran ini masuk akal, terapis ingin Anda mengungkapkannya saat pemikiran ini muncul,” kata Kidd.

Secara umum, terapis ‌tidak‌ harus melaporkan atau menelepon siapa pun berdasarkan pemikiran untuk bunuh diri.

"Dibutuhkan serangkaian keadaan yang sangat spesifik bagi seorang terapis untuk memecahkan kerahasiaan dan bukan sesuatu yang kita anggap enteng,” tambahnya.

Beri tahu terapis Anda jika pikiran untuk bunuh diri muncul, seberapa sering Anda mengalaminya, dan apakah disertai dengan gejala atau pikiran lain.

“Mengabaikan atau menghindari topik ini sering kali menyebabkan peningkatan isolasi dan memburuknya gejala,” kata Kidd.

Terapis ingin mengetahui pemikiran-pemikiran ini, sehingga mereka dapat mengeksplorasinya bersama Anda dan membuat Anda merasa diperhatikan.

6. Menghilang secara Tiba-tiba dari Terapi

Ada banyak sekali alasan mengapa orang memutuskan untuk menghentikan terapi, dan semuanya sah-sah saja. Mungkin Anda merasa telah mengatasi masalah Anda, atau Anda lebih memilih untuk mencoba terapis lain.

Meskipun demikian, mengakhirinya tanpa memberi tahu terapis Anda bukanlah langkah yang baik dari sudut pandang kesehatan mental. Dengan kata lain, ghosting bisa menjadi taktik penghindaran yang tidak sehat.

Sebaiknya beritahu terapis jika Anda ingin berhenti terapi saat kalian bertemu. Terapis tidak akan merasa marah dan tersinggung. Anda dapat melakukan ini melalui tatap muka atau menyampaikan pesan. Meskipun begitu, perlu diingat bahwa selalu ada pilihan untuk kembali terapi jika Anda membutuhkannya

Pilihan Editor: Pangeran Harry Ungkap Parfum Putri Diana Membantu Terapi Kehilangan

ANNISA YASMIN | LIVESTRONG

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."